Namun rupanya spanduk itu tidak sampai ke ruang kerja sebagian pejabat.
BACA JUGA:Membela Istri Bisa Menggugurkan Jabatan
Atau mungkin sampai, tapi tidak dibaca.
Yang lebih memprihatinkan: banyak dari mereka sebelumnya tampil religius. Ada yang rajin umrah. Ada yang sering hadir di acara keagamaan. Ada yang fasih bicara soal moral dan integritas.
BACA JUGA:Polisi Mau Pulang ke Mana
Ternyata integritas sering berhenti di mimbar.
Begitu turun dari panggung, godaan proyek lebih kuat daripada godaan takjil.
BACA JUGA:Burung Besi Itu Kalah di Bulusaraung
Kita tentu harus mengapresiasi aparat penegak hukum yang masih bekerja di bulan puasa. Operasi tangkap tangan tidak ikut berpuasa. Tetap berjalan.
Artinya satu: praktiknya juga tidak berpuasa.
BACA JUGA:Rompi Oranye Itu Akhirnya Dilipat
Korupsi tetap jalan. Suap tetap mengalir. Transaksi gelap tetap terjadi.
Seolah-olah Ramadan hanya berlaku untuk rakyat biasa.
BACA JUGA:Ancaman Superflu di Tengah Bayang-Bayang Covid-19
Sementara bagi sebagian pejabat, Ramadan hanyalah jeda jam makan.
Padahal masyarakat sedang menaruh harapan besar pada daerah. Otonomi daerah seharusnya membuat pelayanan lebih dekat, pembangunan lebih cepat, dan kesejahteraan lebih terasa.