Bulan tersenyum pahit. “Jadi kamu memilih menjauh dari aku supaya aku tidak melihat kelemahanmu?”
Bintang mengangguk kecil.
Sunyi kembali memenuhi ruangan.
Untuk pertama kalinya, Bulan memahami bahwa jarak di antara mereka bukan hanya karena orang ketiga. Ia tumbuh dari ketakutan, dari diam yang terlalu lama, dan dari dua orang yang sama-sama menunggu tanpa benar-benar berbicara.
“Aku tidak butuh suami yang sempurna,” kata Bulan akhirnya. “Aku cuma butuh suami yang jujur.”
Bintang menunduk. “Aku tidak tahu apakah kamu masih bisa percaya aku.”
Bulan tidak langsung menjawab.
Ia tahu memperbaiki hubungan tidak sesederhana memutus percakapan dengan perempuan lain. Kepercayaan yang retak butuh waktu untuk tumbuh kembali.
Namun ia juga tahu satu hal: masalah yang akhirnya dihadapi bersama selalu lebih ringan daripada masalah yang disembunyikan sendirian.
“Aku tidak bisa kembali ke kemarin,” kata Bulan pelan. “Tapi kalau kamu benar-benar mau memperbaiki ini, kita mulai dari sekarang.”
Bintang menatapnya dengan mata yang penuh kelegaan dan juga ketakutan.
Karena memperbaiki pernikahan bukan soal janji besar. Ia tentang keberanian untuk tetap tinggal, bahkan setelah melihat sisi paling rapuh satu sama lain.
Gempur Rokok Illegal--
Malam itu mereka duduk lebih lama dari biasanya, berbicara tentang hal-hal yang selama ini disimpan terlalu dalam.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, jarak di antara mereka mulai terasa sedikit lebih dekat.
Bukan karena semuanya sudah sembuh.