MALAM setelah rahasia itu terbuka terasa berbeda.
Tidak ada lagi kebohongan kecil. Tidak ada lagi alasan lelah yang diulang-ulang. Yang ada hanya dua orang yang akhirnya duduk berhadapan dengan kebenaran yang selama ini dihindari.
Bulan menatap Bintang dengan tenang. Aneh, pikirnya, bagaimana luka bisa terasa lebih jelas setelah semuanya diucapkan dengan jujur.
“Sejak kapan kamu menjauh dari aku?” tanya Bulan pelan.
Mini Kidi Wipes.--
Bintang tidak langsung menjawab. Ia menatap tangannya sendiri, seolah mencari keberanian di sana. “Mungkin sejak aku merasa tidak cukup baik untuk kamu.”
Bulan mengernyit. “Tidak cukup baik?”
“Aku selalu merasa gagal,” lanjut Bintang. “Kerjaanku tidak seperti yang aku bayangkan dulu. Keuangan kita sering pas-pasan. Aku merasa kamu pantas mendapat suami yang lebih berhasil.”
Bulan terdiam lama. Semua ini jauh dari dugaan yang ia bangun selama berbulan-bulan. Ia mengira masalahnya ada pada dirinya pada tubuhnya, pada penampilannya, pada sesuatu yang ia lakukan salah.
Ternyata masalahnya justru ada pada rasa tidak percaya diri yang Bintang sembunyikan.
“Dan perempuan itu?” tanya Bulan akhirnya.
Bintang menarik napas panjang. “Dia cuma tempat aku merasa dihargai.”
“Lalu aku apa?”
Pertanyaan itu menggantung di udara.
Bintang menatap istrinya dengan mata yang akhirnya jujur. “Kamu terlalu penting buat aku. Aku takut terlihat lemah di depan kamu.”