JEMBER, MEMORANDUM.DISWAY.ID – Angka stunting di Kabupaten Jember turun dari 10.414 anak pada 2024 menjadi 9.582 anak pada 2025 atau berkurang 832 kasus, namun pemerintah daerah menilai upaya penanganan masih harus diperkuat, Kamis 5 Maret 2026.
Kepala Bidang Penanganan Stunting Dinas Kesehatan Jember Gini Wuryandari mengatakan, penurunan tersebut menunjukkan progres, tetapi belum menjadi alasan untuk berpuas diri.
Mini Kidi Wipes.--
“Jika melihat data, tahun 2025 ini ada 9.582 anak, sementara di 2024 kemarin sekitar 10.414. Jadi memang ada penurunan yang nyata, namun kita tidak boleh cepat berpuas diri,” ujarnya saat ditemui di ruang kerjanya.
Gini menjelaskan stunting merupakan gangguan tumbuh kembang akibat kekurangan gizi kronis, terutama dalam 1.000 Hari Pertama Kehidupan.
Menurutnya, penyebab stunting bersifat multidimensional sehingga intervensi tidak cukup hanya dari sisi medis, tetapi juga menyentuh aspek sosial dan budaya masyarakat.
“Penyebab stunting itu sangat kompleks. Tidak hanya soal ketersediaan pangan, tapi juga budaya makan di keluarga, sanitasi yang kurang memadai, hingga rendahnya kemampuan orang tua dalam mengolah bahan makanan lokal menjadi asupan bergizi untuk anak,” urainya.
Gini menegaskan dampak stunting tidak hanya pada fisik, tetapi juga pada perkembangan otak anak.
BACA JUGA:Kawal Hak Pekerja di 2.800 Perusahaan, Pemkab Jember Pastikan THR Cair Tepat Waktu
“Dampaknya jangka panjang. Jika sel sarafnya lebih sedikit, maka kemampuan kognitifnya akan terbatas. Ini secara langsung mempengaruhi tingkat IQ dan produktivitas anak di masa depan. Kita sedang mempertaruhkan kualitas generasi penerus Jember,” tegasnya.
Untuk mendeteksi dini, Dinas Kesehatan mengandalkan Posyandu dengan pengukuran antropometri berupa tinggi dan berat badan guna mengidentifikasi anak berisiko stunting.
Setelah terdeteksi, intervensi dilakukan melalui Pemberian Makanan Tambahan berbasis pangan lokal seperti daun kelor, telur, dan ikan agar mudah diterapkan keluarga di rumah.
Gempur Rokok Illegal--
“Kami memberikan PMT berbasis pangan lokal. Tujuannya agar orang tua bisa menduplikasi menu tersebut di rumah tanpa harus bergantung pada produk pabrikan yang mahal,” tambahnya.
Gini menekankan pemberian ASI eksklusif selama enam bulan dan pemilihan MPASI yang tepat menjadi kunci pencegahan stunting.
“Edukasi kepada orang tua adalah investasi terbesar. Kami ingin masyarakat sadar bahwa pemenuhan gizi dimulai dari dapur sendiri. Dengan sinergi antara pemerintah dan kesadaran keluarga, kita optimis angka stunting di Jember akan terus merosot di tahun-tahun mendatang,” pungkasnya. (*/adv)