"Waktunya sangat mepet, cuma dua minggu. Kami bingung harus berbuat apa. Tiba-tiba disuruh pindah tanpa diajak rembukan dulu," tambah Rachman dengan nada getir.
Bagi para pedagang, opsi relokasi ke Pasar Wonokromo bukanlah solusi cerdas. Jarak tempuh yang jauh serta ketidakpastian lapak menjadi ganjalan utama.
Rachman menyebut, meski ada stan kosong di Wonokromo, status kepemilikannya belum jelas.
"Di sana (Pasar Wonokromo) memang ada stan kosong, tapi infonya sudah ada yang punya. Lalu kami mau ditaruh di mana?" tanyanya.
BACA JUGA:DPRD Surabaya Warning RHU dan Resto Jual Minhol Selama Ramadan
Selain masalah teknis, faktor efisiensi dan loyalitas pelanggan menjadi pertimbangan utama. Selama ini, pelanggan setia sudah hafal lokasi mereka di Pasar Tembok. Jika dipindah mendadak, mereka khawatir kehilangan omzet secara drastis
Rachman menegaskan, para pedagang bukannya melawan aturan pemerintah. Mereka hanya menuntut kemanusiaan dan keterbukaan informasi.
"Kami siap ditata, bukan digusur. Kalau memang harus pindah atau renovasi, tolong libatkan kami. Jangan langsung main tutup begini," tegasnya.
BACA JUGA:Pastikan Kepatuhan Aturan Ramadan, Satpol PP Surabaya Sisir Delapan Titik RHU
Kini, demi menyambung hidup, para pedagang terpaksa memutar otak. Sebagian mulai mencoba peruntungan dengan berjualan secara online dan melayani pesan antar via telepon.
Sebagian lagi terpaksa menumpang di lapak rekan mereka di pasar lain yang masih diperbolehkan beroperasi.
"Ini cuma solusi sementara. Kami berharap pemkot mau duduk bareng cari jalan tengah yang tidak mematikan rezeki pedagang kecil seperti kami," pungkasnya. (yat/alf)