“Kamu ingin menikah lagi karena itu?” suara Bulan hampir berbisik.
Bintang mengangguk pelan. “Aku tetap ingin kamu di hidupku. Kamu tetap istriku.”
Kalimat itu terdengar seperti kompromi bagi Bintang. Tapi bagi Bulan, itu seperti pembagian yang tidak pernah ia setujui.
“Aku harus berbagi suami?” tanya Bulan.
“Aku tidak ingin menceraikan kamu.”
Bulan tersenyum pahit. “Kadang kehilangan bukan cuma soal ditinggalkan. Kadang soal dibagi.”
Malam itu tidak ada keputusan. Hanya kesadaran bahwa hidup mereka tidak lagi sama seperti satu jam sebelumnya.
Hari-hari berikutnya penuh percakapan yang sulit. Bintang mencoba menjelaskan bahwa ini bukan karena ia tidak mencintai Bulan. Ia hanya ingin kesempatan menjadi ayah.
Namun bagi Bulan, cinta tidak selalu bisa dipisahkan dari keadilan.
“Kalau aku yang tidak bisa memberi anak,” katanya suatu malam, “apakah itu berarti aku harus menerima semua ini?”
Bintang tidak punya jawaban yang benar-benar menenangkan.
Dalam banyak pernikahan, poligami sering dibicarakan dengan bahasa hukum atau agama. Tapi di dalam rumah, yang terasa bukan pasal melainkan hati.
Dan di rumah Bintang dan Bulan, satu kalimat sederhana telah mengubah segalanya:
“Aku ingin menikah lagi.”
Gempur Rokok Illegal--
Kalimat itu bukan hanya tentang seorang perempuan baru yang mungkin akan datang.