Dari Kesehatan hingga Lingkungan, Ini Alasan Diet Nabati Makin Digemari

Kamis 26-02-2026,17:19 WIB
Reporter : Mg/ Devi Angelita
Editor : Ferry Ardi Setiawan

Diketahui bahwa produksi makanan dari hewan menghasilkan emisi gas rumah kaca yang lebih besar dibandingkan dengan produksi makanan dari tumbuhan.

United Nations dalam berbagai laporan mengenai keberlanjutan mendorong perubahan sistem pangan global agar lebih ramah lingkungan, termasuk dengan meningkatkan konsumsi makanan berbasis tumbuhan.

Di Indonesia, berbagai inisiatif gaya hidup sehat dan ramah lingkungan mulai dipopulerkan dalam gerakan untuk mengurangi limbah makanan dan konsumsi daging yang berlebihan.

Tantangan: Edukasi dan Keseimbangan Gizi

Walaupun tampak mudah, diet yang berfokus pada nabati memerlukan perencanaan yang matang. Beberapa nutrisi penting seperti vitamin B12, zat besi, kalsium, dan protein harus diperhatikanagar tidak terjadi defisiensi.

Sumber protein nabati yang sering dimakan di Indonesia termasuk tempe, tahu, kacang merah, dan lentil. Penting untuk mengombinasikan berbagai jenis menu agar kebutuhan asam amino esensial dapat terpenuhi dan keseimbangan gizi terjaga.

Bukan Sekadar Tren Sementara

Peningkatan minat terhadap pola makan berbasis tumbuhan menunjukkan perubahan dalam kebiasaan konsumsi masyarakat yang lebih peduli dengan kesehatan dan keberlanjutan. 


Gempur Rokok Illegal--

Dengan meluasnya akses informasi dan meningkatnya kesadaran akan pentingnya pola makan yang seimbang, diperkirakan diet berbasis nabati akan tetap relevan dalam waktu yang lama.

Pada akhirnya, apapun pola makan yang diterapkan harus disesuaikan dengan kebutuhan gizi setiap individu dan dilakukan dengan seimbang. (Mg/ Devi Angelita)

Kategori :