Menurut ibu dua anak itu, membagikan pengalaman pribadinya dalam menggunakan media sosial. Ia menilai, dunia digital memang membuka ruang kreativitas, namun tetap memiliki risiko yang harus disadari pengguna.
“Di media sosial kita memang bisa berkarya. Tapi suatu saat bisa saja kita diserang, bahkan mengalami peretasan. Itu mengingatkan saya bahwa dunia maya bukan dunia nyata. Sejak saat itu saya memilih tidak lagi memposting hal-hal pribadi dan mencoba menerima semuanya sebagai cara Allah mengingatkan kita dalam bermedia sosial,” ujar Ning Lia.
Politisi cantik itu menambahkan, penggunaan media sosial yang berlebihan kerap membuat waktu terbuang tanpa disadari. Karena itu, ia selalu mengingatkan anak-anaknya agar bijak saat menggunakan gawai.
“Saya selalu menyampaikan kepada anak saya, ketika sudah memegang handphone harus tetap bijak. Apa pun yang ada di luar sana bukan sepenuhnya dunia nyata. Yang paling penting tetap keluarga, orang tua, dan teman yang benar-benar kita kenal di kehidupan nyata,” jelasnya.
BACA JUGA:Jaga Independensi, Senator Lia Istifhama Dukung Polri Tetap di Bawah Komando Presiden
Menurutnya, media sosial seharusnya hanya menjadi sarana komunikasi dan memperluas jaringan pertemanan, bukan menggantikan hubungan sosial secara langsung.
“Sosial media itu alat komunikasi, bukan pengganti hubungan nyata. Teman yang sesungguhnya adalah mereka yang kita kenal dan hadir di kehidupan nyata,” pungkasnya.
Sementara itu, Ketua Stikosa AWS Jonathan Kristiono mengatakan melalui Program Puasa Digital mengajak generasi muda untuk mengatur waktu penggunaan gawai agar tidak menguras produktivitas.
“Sosial media bukan pondasi hidup kita. Pondasi hidup adalah keluarga, empati, dan relasi nyata,” katanya. (bin)