“Aku cuma ingin bertanggung jawab.”
“Aku tidak pernah melarang kamu bertanggung jawab,” jawab Bulan pelan. “Yang menyakitkan bukan pengakuannya. Yang menyakitkan adalah aku tidak pernah diberi kesempatan untuk tahu lebih dulu.”
Bintang memegang setir lebih erat. Ia sadar, bagi dirinya pengakuan adalah langkah berani. Tapi bagi Bulan, itu adalah pengumuman bahwa suaminya pernah memiliki kehidupan lain yang tidak pernah ia ceritakan.
Beberapa hari kemudian, anak itu datang ke rumah mereka untuk pertama kalinya. Ia berdiri di ruang tamu dengan mata yang penasaran.
“Ini rumah Ayah?” tanyanya lagi, kali ini lebih yakin.
Bulan mengangguk pelan. Ia tidak tahu harus menjadi apa di hadapan anak itu istri, atau saksi dari keputusan yang tidak pernah ia pilih.
Anak itu tersenyum kecil padanya. “Tante marah sama aku?”
Pertanyaan itu membuat Bulan terdiam.
Gempur Rokok Illegal--
“Aku nggak marah sama kamu,” jawabnya jujur. “Orang dewasa yang bikin rumit semuanya.”
Malam itu, setelah anak itu pulang, Bulan berkata pada Bintang, “Mulai sekarang hidup kita berubah. Dan kamu harus sadar, tanggung jawab itu bukan cuma finansial. Ini soal waktu. Soal perhatian. Soal kepercayaan.”
Bintang mengangguk. Namun di balik pengakuan resmi itu, ia tahu satu hal: kepercayaan yang retak tidak otomatis pulih hanya karena ia melakukan hal yang benar.
Pengakuan itu sah. Legal. Final.
Tapi di dalam rumah, luka itu masih terbuka.
Karena yang paling menyakitkan bukan fakta bahwa anak itu ada.
Melainkan kenyataan bahwa kebenaran harus diumumkan secara resmi sebelum akhirnya diakui dalam hati.