Keputusan besar dalam hidup sering kali lahir dari perjalanan panjang. Di tengah perbedaan keyakinan dalam keluarganya, Tanjaya membuktikan bahwa pilihan iman bisa berjalan beriringan dengan toleransi dan kasih sayang.
Pencarian, keyakinan, dan ketenteraman yang lahir dari keberanian mengikuti suara hati menyelimuti kisah Tanjaya yang mantap memeluk Islam di Masjid Muhammad Cheng Ho saat usianya menginjak 24 tahun.
BACA JUGA:Kisah Sejuk Liana Wardani, Islam dan Meja Makan Lintas Iman
Keinginan menjadi mualaf sejatinya telah tumbuh sejak kecil. Tanjaya, atau akrab disapa Tan, tumbuh dan besar di kawasan Putro Agung, Tambaksari.
Meski bersekolah di sekolah dasar swasta yang mayoritas beragama Kristen, sebagian besar teman bermain dan tetangganya beragama Islam. Lingkungan itulah yang perlahan menumbuhkan rasa ingin tahunya.
“Dari kecil saya sering bertanya-tanya tentang Islam. Teman-teman dan tetangga banyak yang menjelaskan sedikit demi sedikit,” ungkap pemuda kelahiran 2 Juni 2001 tersebut.
BACA JUGA:Labuhan Terakhir Ismail, Dari Taiwan Menjemput Cahaya Islam di Sidoarjo
Sebagai anak kecil, Tan mengaku belum fokus mendalami ajaran agama. Namun, pengalaman melihat teman-temannya mengikuti pengajian Yasin dan tahlil meninggalkan kesan tersendiri.
Ia hanya bisa menyaksikan dari kejauhan karena saat itu masih memeluk agama Kristen Katolik dan belum dibaptis. Seiring bertambahnya usia, rasa penasaran itu tak pernah benar-benar hilang.
Justru semakin dewasa, Tan mulai mencari tahu sendiri tentang Islam dengan membaca, berdiskusi, dan bertanya kepada teman-teman muslimnya.
BACA JUGA:Perjalanan Fransiskus Hermawan Priyono Menjadi Imam Keluarga, Tangis Bahagia di Sajadah Subuh
Keyakinan bahwa Allah itu satu sebenarnya telah ia rasakan sejak kecil, namun kala itu belum menjadi sesuatu yang ia dalami secara serius.
Hingga akhirnya, setelah melalui proses pencarian batin, Tan merasa mantap untuk bersyahadat. Momen sakral itu dilakukan di Masjid Muhammad Cheng Hoo Surabaya Surabaya pada 2025.
Yang membuatnya terharu, kedua orang tuanya mengantar langsung ke masjid untuk mengucapkan dua kalimat syahadat.
Dukungan keluarga menjadi kekuatan tersendiri bagi Tan. Sang ibu beragama Kristen Katolik, ayahnya menganut Konghucu, bahkan kedua kakaknya juga memeluk agama Kristen. Meski berbeda keyakinan, mereka memberikan restu penuh.