Buka Puasa atau Buka CV, Bukber Mahasiswa Jadi Ajang Seminar Karier

Senin 23-02-2026,13:52 WIB
Reporter : Mg/Rifqi Syihab
Editor : Ferry Ardi Setiawan

Pagi kuliah. Sore kerja. Malam ngerjain tugas. Bisa sebaliknya. Hidup saya bukan inspirasi LinkedIn. Hidup saya adalah manajemen capek tingkat lanjut. 

Tapi di meja bukber, perjuangan bertahan hidup sering kalah menarik dibanding cerita “target lima tahun ke depan”. 

Yang bikin lucu, semua ini terjadi di bulan yang katanya mengajarkan kesederhanaan. Kita menahan lapar hampir 14 jam, tapi tidak pernah benar-benar menahan hasrat untuk terlihat berhasil.

BACA JUGA:Sambut Ramadan 2026, Hotel Fortuna Grande Jember Luncurkan Paket Bukberan dengan Konsep 'Sajian Kebaikan'

Bukber hari itu seperti lomba halus. Siapa paling cepat naik level sebelum usia 25. Siapa paling stabil. Siapa paling siap menikah. Siapa paling mapan. Saya duduk sambil berpikir, kenapa silaturahmi sekarang terasa seperti perbandingan statistik?

Sebagai mahasiswa yang juga bekerja, saya sudah terbiasa merasa “tidak cukup”. Di kampus, saya kurang fokus. Di tempat kerja, saya masih dianggap anak kuliahan. 

Di keluarga, saya ditanya kapan lulus. Di bukber, saya ditanya kapan sukses. Azan Magrib akhirnya terdengar. Semua hening. Semua setara. Air putih diteguk dengan syukur yang sama. Di momen itu, tidak ada jabatan. Tidak ada gaji. Tidak ada IPK.


Gempur Rokok Illegal--

Hanya manusia yang haus.

Sayangnya, momen itu cuma sebentar. Setelah perut terisi, percakapan kembali ke rencana beli rumah, investasi, rencana S2, dan proyeksi karier lima tahun. Saya mengunyah gorengan sambil merasa seperti grafik yang harus terus naik. 

Tidak boleh stagnan. Tidak boleh lelah. Padahal kalau boleh jujur, bagi saya yang kuliah sambil kerja, bisa bertahan sampai hari ini saja sudah prestasi. Bisa bayar uang semester tepat waktu sudah pencapaian. 

Bisa bangun sahur meski tidur cuma tiga jam itu juga kemenangan kecil. Tapi kemenangan kecil jarang menarik di forum buka CV.

Saya pulang malam itu dengan perut kenyang dan kepala penuh gema percakapan. Di jalan, saya berpikir. Mungkin Ramadan bukan cuma soal menahan lapar. Mungkin ini juga soal belajar menahan ego untuk tidak selalu membuktikan diri.

Kalau tahun depan saya datang lagi, mungkin saya akan tetap ditanya, “Sekarang kerja di mana?”

Dan mungkin saya akan tetap menjawab dengan senyum. (Mg/Rifqi Syihab)

Kategori :