SURABAYA, MEMORANDUM.DISWAY.ID - Sebagai mahasiswa yang juga bekerja, hidup saya sudah cukup melelahkan tanpa perlu ditambah sesi presentasi diri gratis saat buka bersama.
BACA JUGA:12 Bukber All You Can Eat di Surabaya Ramadan 2026, Lengkap Harga dan Lokasi
Saya datang ke bukber dengan niat sederhana, ingin duduk, minum yang manis-manis, lalu merasa hidup tidak sekeras biasanya, dan bercengkrama. Tapi rupanya saya salah fikir. Yang saya kira acara berbuka, ternyata semacam seminar karier tanpa moderator.
Mini Kidi Wipes.--
Baru lima menit duduk, pertanyaan klasik itu datang. “Sekarang kerja di mana? Sudah lulus kah?”
Kalimat yang terdengar ringan, tapi efeknya seperti sidang skripsi mendadak. Saya menjawab sekenanya. Lalu pertanyaan lanjutan muncul, lebih detail, lebih teknis, lebih investigatif.
“Posisi apa?”
“Udah berapa lama?”
BACA JUGA:Cicipi Kuliner Nusantara: Bukber 'Jelajah Nusantara' di Artotel TS Suites Surabaya
“Gajinya lumayan dong?”
Di situ saya sadar kalau ini bukan bukber. Ini buka CV.
Semua orang seperti membawa portofolio tak kasat mata. Meja makan berubah jadi meja interview massal.
Kurma belum dimakan, tapi pencapaian sudah disajikan lebih dulu. Ada yang cerita tentang kenaikan jabatan dengan nada rendah hati yang terlalu terlatih.
Ada yang menyelipkan istilah-istilah korporat supaya terdengar sibuk dan penting. Bahkan ada yang menyebut angka-angka dengan santai, seolah-olah nominal gaji adalah bagian dari menu takjil.
Sementara saya?