Dalam perspektif sosiolinguistik, interaksi pemain lintas negara juga memperluas paparan terhadap variasi bahasa dan gaya komunikasi informal.
Game juga melatih manajemen waktu dan perencanaan. Event berbatas waktu serta sistem misi mendorong pemain untuk menentukan prioritas.
Penelitian dari Oxford Internet Institute pada 2020 menemukan bahwa durasi bermain yang moderat, sekitar satu hingga dua jam per hari, tidak berkorelasi negatif dengan kesejahteraan psikologis, bahkan dalam beberapa kasus berkaitan dengan perasaan kompetensi dan pencapaian.
Ini menunjukkan bahwa pengelolaan waktu menjadi faktor kunci dalam memaksimalkan manfaat gaming.
Terakhir, kreativitas dan imajinasi juga berkembang melalui game sandbox seperti Minecraft yang memberikan kebebasan penuh untuk membangun dan bereksperimen.
BACA JUGA:Mirama Games Land Cara Seru Mercure Surabaya Grand Mirama Sambut Tahun Baru 2026
Penelitian dalam Creativity Research Journal menunjukkan bahwa anak-anak yang bermain game kreatif memiliki skor kreativitas lebih tinggi dibandingkan mereka yang hanya mengkonsumsi media pasif. Aktivitas membangun dunia virtual merangsang pemikiran spasial, desain, serta inovasi.
Meski demikian, para peneliti menekankan pentingnya keseimbangan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengingatkan bahwa perilaku bermain yang tidak terkendali dapat berkembang menjadi gangguan.
Oleh karena itu, manfaat positif gaming hanya akan muncul jika dilakukan secara proporsional dan tidak mengganggu tanggung jawab utama.
Secara keseluruhan, berbagai bukti ilmiah menunjukkan bahwa bermain game bukan sekadar aktivitas hiburan, melainkan medium pembelajaran kognitif dan sosial yang signifikan.
Dengan pengelolaan waktu yang tepat, game dapat menjadi sarana pengembangan diri yang konstruktif di era digital. (Mg/Luthfi Rahmanda)