SURABAYA, MEMORANDUM.DISWAY.ID - Keluhan fisik seperti jantung berdebar, nyeri lambung, pusing, sesak napas, hingga kelelahan ekstrem kerap dialami banyak orang dalam berbagai fase kehidupan.
BACA JUGA:Inilah Alasan Mengapa Kepala Sering Pusing Usai Terkena Air Hujan, Lengkap dengan Cara Meredakan
Tak jarang, kondisi tersebut memicu kebingungan: apakah ini murni gangguan fisik, atau justru berkaitan dengan kesehatan mental? Pertanyaan semacam ini menjadi relevan, mengingat cemas (anxiety), depresi (depression), dan psikosomatik (psychosomatic) sering saling berkaitan dan muncul bersamaan, meski memiliki karakteristik yang berbeda.
Mini Kidi--
Pemahaman yang keliru dapat membuat seseorang terjebak pada rasa takut berlebihan terhadap tubuhnya sendiri. Karena itu, mengenali perbedaan ketiganya menjadi langkah penting agar penanganan yang dilakukan lebih tepat dan tidak menimbulkan beban psikologis tambahan.
Gangguan cemas merupakan kondisi medis yang ditegakkan melalui pemeriksaan psikiatri oleh tenaga profesional. Inti dari gangguan ini adalah kekhawatiran dan ketakutan yang berlebihan, sering kali terhadap hal yang belum atau bahkan tidak terjadi.
BACA JUGA:Program JKN Bantu Warga Kediri Sembuh dari Sesak Napas
Ketegangan psikologis tersebut kemudian memicu reaksi fisik, seperti jantung berdebar, sesak napas, keringat dingin, gemetar, rasa melayang, hingga ketakutan akan kematian mendadak. Gejala fisik yang kuat inilah yang membuat gangguan cemas kerap disalahartikan sebagai penyakit organ serius.
Sementara itu, depresi memiliki fokus yang berbeda. Kondisi ini ditandai oleh penurunan suasana hati dan energi hidup dalam jangka waktu yang menetap. Depresi bukan sekadar perasaan sedih, melainkan kondisi klinis yang memengaruhi cara seseorang berpikir, merasakan, dan menjalani aktivitas sehari-hari.
BACA JUGA:Rempah-rempah Kapulaga: Si Kecil Wangi dengan Segudang Khasiat, dari Jantung hingga Pencernaan
Gejalanya dapat berupa perasaan hampa atau putus asa, hilangnya minat dan motivasi, kelelahan berlebihan, gangguan tidur dan konsentrasi, hingga munculnya pikiran untuk menyakiti diri.
Pada sebagian individu, terutama usia lanjut, depresi justru lebih sering muncul dalam bentuk keluhan fisik yang sulit dijelaskan secara medis.
Psikosomatik berada di antara keduanya dan sering disalahpahami sebagai penyakit tersendiri. Padahal, secara medis, psikosomatik merujuk pada gejala fisik nyata yang dipicu oleh tekanan emosional, kecemasan, atau depresi yang tidak tertangani.
Tubuh seolah menyimpan emosi yang tertahan, lalu mengekspresikannya melalui keluhan fisik seperti nyeri dada, gangguan lambung, pusing, nyeri otot, kelelahan kronis, hingga telinga berdengung.
Sejumlah studi klinis menunjukkan bahwa gejala psikosomatik banyak dialami oleh individu dengan gangguan cemas maupun depresi, sehingga keduanya tidak dapat dipisahkan secara kaku.