Ada sesuatu yang terasa seperti aroma tanah basah setelah hujan dalam kata "genteng". Ia adalah kenangan tentang masa kecil di pedesaan Jawa: derit kayu penyangga, rona merah bata yang memudar, dan kesejukan yang menyelinap saat matahari sedang garang-garangnya. Kini, kata itu kembali ke permukaan, bukan lewat puisi atau cerpen, melainkan lewat maklumat kepresidenan. Presiden Prabowo Subianto mencanangkan sebuah proyek besar: Gentengisasi.
Maksudnya barangkali mulia. Dalam payung besar Gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, Indah), pemerintah ingin kita menanggalkan seng. Seng, bagi Presiden, adalah residu dari apa yang ia sebut sebagai "degenerasi". Ia panas, ia berkarat, ia muram. Dan sebaliknya, genteng—dengan palet warna Nusantara Horizon yang sudah disiapkan—adalah wajah baru kemajuan.
BACA JUGA:Harga Sebuah Tawa
Mini Kidi--
Seperti halnya gagasan besar yang lahir dari puncak kekuasaan, Gentengisasi menyimpan janji sekaligus kecemasan.
Kelebihannya nampak pada permukaan yang kasat mata:
Kenyamanan Termal: Kita tahu, seng adalah konduktor panas yang kejam. Genteng tanah liat, dengan sifat isolasi alaminya, memang memberikan napas yang lebih lega bagi penghuni rumah di bawah terik tropis.
BACA JUGA:Bilik Suara Vs Bilik Dewan
Ketahanan Estetis: Genteng tak mengenal karat. Ia bisa menua dengan martabat, bahkan ketika lumut mulai menghiasinya. Secara visual, ia memberikan kesan ketertiban yang rapi—sesuatu yang sangat disukai oleh mata yang mendamba "keindahan nasional".
Geliat Industri Lokal: Memaksa ribuan rumah berganti atap berarti menghidupkan kembali tungku-tungku pembakaran di sentra perajin genteng. Ada roda ekonomi rakyat yang dijanjikan berputar di sana.
Namun, di balik warna-warna emerald dan terakota yang molek itu, ada celah kritis yang tak bisa diabaikan:
BACA JUGA:Kembali ke Bumi
Beban Struktur: Genteng jauh lebih berat daripada seng. Mengganti atap bukan sekadar mengganti lembaran; ia menuntut penguatan pada rangka kayu atau baja ringan di bawahnya. Bagi rakyat kecil, ini bukan sekadar urusan "ganti baju", tapi rombak fondasi.
Kearifan Lokal yang Terabaikan: Indonesia bukan hanya Jawa. Di daerah rawan gempa, seng sering dipilih karena sifatnya yang ringan; ia tidak akan meremukkan penghuninya jika bangunan runtuh. Memaksakan genteng di wilayah tertentu bisa jadi adalah sebuah "imperialisme estetika" yang buta geografi.
Skala Prioritas: Di tengah isu pengangguran dan daya beli yang lesu, apakah estetika atap adalah urgensi? Ada kesan bahwa kita sedang sibuk mengganti cat rumah sementara kabel di dalamnya sedang korsleting. Kita mengejar penampilan "naik kelas", namun mungkin dengan cara berutang pada prioritas yang lebih mendasar.