SURABAYA, MEMORANDUM.DISWAY.ID - Bagi Ivena Caroline, bahasa Jepang bukan sekadar deretan huruf Kanji atau tata bahasa yang rumit. Baginya, itu adalah kunci pembuka pintu impian.
BACA JUGA:Menuju Kampus Inklusif, Untag Surabaya Siapkan Pembentukan Pusat Pelayanan Disabilitas
Mahasiswa tingkat akhir Sastra Jepang Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya ini, tengah menarik perhatian lewat perannya sebagai Co-founder Masaka Learning.
Mini Kidi--
Yakni, sebuah platform edukasi yang didedikasikan untuk membantu para pembelajar menaklukkan tantangan bahasa dan karier di Negeri Sakura.
BACA JUGA:Perkuat Sinergi Global, Untag Surabaya dan UTHM Mantapkan Kerja Sama Riset dan Akademik
Di balik kesibukannya memimpin startup, Ivena tetap menjaga sisi humanisnya melalui hobi yang kontemplatif.
BACA JUGA:Rektor Untag Surabaya Sampaikan Duka Cita atas Tragedi Dosen Untag Semarang
Menggambar dan journaling menjadi ritual wajib. Itu dilakukan untuk menjaga kesehatan mental di tengah padatnya aktivitas.
BACA JUGA:Untag Surabaya Perkuat Riset Kedirgantaraan, Gandeng SPUTNIX Rusia dalam Kolaborasi Strategis
Di mata Ivena, menuangkan gagasan ke dalam bentuk visual maupun tulisan adalah cara terbaik agar tetap rileks dan puas secara intelektual.
BACA JUGA:Untag Surabaya Inisiasi Sarasehan Transformasi PTS Menuju Kelas Dunia
"Saya suka menggambar di waktu luang. Selain itu, saya selalu melewati pagi saya dengan journaling. Bahkan saya sering lupa waktu saat journaling. Karena rasanya natural dan menyenangkan, sekaligus saya anggap memiliki manfaat dan dampak sehat jangka panjang bagi diri saya," ungkapnya.
BACA JUGA:Untag Surabaya Ajak PTS se-Jatim Bersinergi Menuju Kampus Unggul Berkelas Dunia
Berkat kepiawaiannya memahami bahasa Jepang, perempuan kelahiran Malang ini sukses meraih prestasi tingkat Asia Tenggara.