Namun publik tentu bertanya: kalau melapor semakin mudah, apakah menindak juga semakin mudah?
BACA JUGA:Intelektual Pun Bisa Jadi Korban Bully
Karena dalam pengalaman panjang masyarakat, kecepatan Polri itu sangat fleksibel. Dalam kasus tertentu, Polri bisa sangat cepat. Dalam kasus lain, kecepatannya seperti jam dinding yang baterainya sudah dicopot.
Barcode bisa menerima laporan dalam hitungan detik. Tapi bisa kah mentalitas berubah dalam hitungan tahun?
BACA JUGA:Menanti Terobosan Kepala BNN Baru
Ada banyak polisi baik—bahkan sangat baik. Mereka bekerja tanpa publikasi, menolong tanpa kamera, dan pulang tanpa pujian. Namun satu oknum saja bisa meruntuhkan seluruh bangunan kepercayaan publik.
BACA JUGA:Mereka yang Tak Kembali
Itulah nasib institusi yang berseragam: kesalahan satu orang dianggap kesalahan seluruh angkatan. Kebaikan satu orang dianggap tugas, bukan prestasi.
Maka lahirlah barcode, harapan baru untuk membersihkan noda lama. Pertanyaannya: bisakah membersihkan? Atau hanya menambah sticker?
Jangan-jangan nanti barcode dipasang di mana-mana, tapi pelanggaran masih terjadi di mana-mana.
BACA JUGA:Cangar atau Sangar, Bedanya? Nyawa
Laporan masuk dengan cepat, tapi pembenahan masuknya nanti dulu.
Transparansi diumumkan, tapi praktiknya masih buram seperti kaca kantor yang belum dibersihkan.
BACA JUGA:Tepuk Tangan untuk Janji Suci
Semoga barcode ini bukan sekadar hiasan modern pada tiang kota. Semoga ia bukan hanya cara cepat mengumpulkan laporan tanpa cara cepat menyelesaikannya.
Dan semoga—paling semoga—barcode ini tidak bernasib seperti CCTV: dipasang banyak, dilihat jarang, dan dipakai serius hanya setelah kejadian terlanjur viral.