SURABAYA, MEMORANDUM.CO.ID - Polisi mengungkap pesta gay di sebuah hotel di Jalan Ngagel, Wonokromo. 34 pria penyuka sesama jenis diciduk, Sabtu, 18 Oktober 2025, malam.
Pengungkapan itu menghebohkan masyarakat. Pasalnya, jumlah penyuka jenis tersebut tak sedikit. Ditambah dengan latarbelakang profesi mereka yang beragam. Rentang usia mereka juga diperkirakan 35-40 tahun.
BACA JUGA:Pesta Gay di Hotel Surabaya Digerebek Polisi, 34 Orang Diamankan
Mini Kidi--
Praktisi Psikolog Surabaya, Riza Wahyuni SPsi MSi, mengkritisi fenomena tersebut. Menurutnya, perilaku suka sesama jenis itu tidak termasuk dalam klasifikasi gangguan jiwa atau mental.
"Itu dulu yang harus kita pahami. Namun, secara sosial ini menjadi masalah di Indonesia. Di beberapa negara, luar negeri. Hubungan sesama jenis itu biasa. Tapi di Indonesia itu memiliki azaz keagamaan. Punya Pancasila," katanya, Minggu (19/10).
Menurutnya, banyak hal yang menjadi latarbelakang orang mengalami kondisi tersebut. Beberapa kasus yang pernah ditangani Riza, salah satunya yakni mereka pernah jadi korban kekerasan.
BACA JUGA:Waduh, 49 Persen Kasus Baru HIV di Gresik Akibat Homosex
Misalnya, dimana sang anak laki melihat figur ibunya itu dominan. Ibunya terlalu kejam. Anak laki-laki ini menganggap bahwa perempuan itu adalah menyakitkan.
"Dia berpikir, kalau dia suka dengan perempuan maka akan disakiti. Sehingga dia tidak pernah jatuh dengan perempuan. Itu yang terjadi," lanjutnya
Selain itu, riwayat pernah mengalami pelecehan di masa lalunya. Bisa saja itu dialami korbannya saat menginjak masa anak-anak hingga remaja. Ketika dewasa, mereka masih belum bisa menerima perlakuan tersebut.
"Dimana kemudian dia melampiaskan kekesalannya, tidak bisa mengkontrol kondisi tersebut. Itu bisa membuat dia memiliki fantasi seksual dengan suka sesama jenis," tambahnya.
BACA JUGA:Dinkes Gresik Temukan 197 Kasus HIV hingga Agustus 2025, Deteksi Dini Digencarkan
Bisa saja penyuka sesama jenis itu karena ikut-ikutan. Mungkin dia pernah melihat sendiri perbuatan menyimpang yang dilakukan sesama jenis atau dari video yang beredar di website porno.
"Contoh beberapa kasus di sekolah keagamaan misalnya, dimana dia misalnya melihat sendiri kejadian itu. Pengalaman Bu Riza sendiri dari beberapa kasus yang pernah ditangani, dia melihat temannya melakukan terus dia pingin mencoba," ungkapnya.