BANGKOK, MEMORANDUM.CO.ID - Bangkok punya banyak wajah. Ada yang mengenalnya sebagai kota modern dengan mal raksasa dan gedung pencakar langit, ada pula yang menyebutnya kota seribu kuil.
BACA JUGA:Susah Puas: Anis Tiana Pottag Terus Inovasi, Tak Mau Berhenti di Zona Nyaman!
Namun ada satu sisi lain yang tak boleh dilewatkan: wajahnya sebagai kota air. Sungai Chao Phraya, yang membelah ibu kota Thailand dari utara ke selatan, bukan hanya nadi transportasi warga, tetapi juga panggung wisata yang memberi pengalaman berbeda.
Mini Kidi--
Perjalanan saya dimulai dari Dermaga Saphan Taksin, yang terhubung langsung dengan Stasiun BTS Saphan Taksin. Dari pintu keluar stasiun, hanya butuh beberapa langkah untuk tiba di Central Pier, dermaga utama yang menjadi titik berangkat wisata air.
Pagi itu, suasana cukup ramai. Wisatawan antre membeli tiket kapal, sementara perahu-perahu kayu bercat cerah hilir mudik di sungai yang berwarna kecokelatan. Saya memilih naik Chao Phraya Express Boat, transportasi publik yang sekaligus menjadi jalur wisata murah meriah.
Begitu kapal bergerak, semilir angin sungai langsung terasa. Di kiri kanan, pemandangan kota Bangkok menampilkan kontrasnya: deretan hotel mewah dan apartemen modern berdiri berdampingan dengan pasar tradisional, kuil kuno, dan rumah-rumah kayu di tepian sungai.
BACA JUGA:CMS Bareng Anis Tiana Pottag dan Ingo Pottag: Loyalitas Suporter Indonesia Masih Kurang
Beberapa kapal wisata berbentuk barge emas khas Thailand melintas, membawa rombongan turis yang tengah menikmati makan siang di atas air. Sementara itu, kapal feri sederhana mengangkut warga lokal yang berangkat kerja atau berbelanja. Sungai Chao Phraya betul-betul hidup sebagai urat nadi kota.
Di perjalanan itu saya bertemu dengan Diana, seorang turis asal Jerman. Ia datang ke Bangkok memang dengan satu tujuan: mengeksplorasi kota melalui jalur air. Dengan wajah penuh kagum ia berkata, “Saya benar-benar amazing melihat ini. Airnya memang berwarna cokelat, tapi bersih. Tidak ada sampah mengapung, dan ternyata wisata air di Bangkok masih sangat diminati.” Baginya, pengalaman ini berbeda dari wisata air di negaranya, karena di Bangkok aktivitas sungai bukan sekadar atraksi, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari yang masih terjaga.
Kapal kemudian berhenti di dermaga berikutnya. Dari kejauhan, tampak menara porselen Wat Arun yang menjulang, memantulkan cahaya matahari. Banyak turis turun di sini untuk menyeberang dan berfoto.
Beberapa dermaga berikutnya menghubungkan penumpang ke Wat Pho dengan patung Buddha tidur raksasa, serta kompleks Grand Palace yang megah berlapis emas. Dari atas kapal saja sudah menakjubkan, apalagi jika menjejak langsung di halamannya.
Interaksi antarpenumpang menciptakan suasana hangat. Turis Asia sibuk mengabadikan momen dengan kamera, warga lokal membawa keranjang penuh buah, sementara seorang mahasiswa Thailand dengan ramah menunjukkan dermaga terbaik untuk menuju Asiatique, pusat hiburan malam di tepi sungai.