Dua Kasus yang Ditengarai Umar Faruq Dibunuh di Wonokusumo Jaya Surabaya
Teman almarhum Umar Faruq berdoa di peristirahatan terakhirnya di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Kedung Mangu--
SURABAYA, MEMORANDUM.DISWAY.ID - Motif tewasnya Umar Faruq (32) di Jalan Wonokusumo Jaya, Minggu 18 Januari 2026, sekitar pukul 04.30 WIB masih menjadi misteri. Namun, ada dugaan dia sedang menghadapi dua masalah sebelum dibunuh.
Kerabat korban yang meminta identitasnya tak disebut kepada Memorandum bercerita, Faruq sebenarnya dekat dengan seorang perempuan. Wanita itu berada di Lamongan. Sumber itu tidak tahu namanya. Namun yang pasti perempuan itu mengaku janda kepada korban.
"Janda anak satu orang Lamongan. Katanya ini sudah cerai tapi suratnya belum keluar. Tapi yang perempuan bilang ke temanku ini sudah cerai. Kalau masalah ini, perselingkuhan orang Madura kan adatnya dua-duanya dibacok," katanya, Selasa 20 Januari 2026.
BACA JUGA:Begini Upaya Polisi Ungkap Pembunuhan di Wonokusumo Jaya Surabaya

Mini Kidi--
Itu dugaan pertama. Kedua, Faruq ini sedang menjalankan bisnis lain selain pekerjaan utamanya sebagai kurir pengiriman ikan di beberapa restoran: dia menjual minyak jelantah. Terakhir pembeli minyak goreng bekas itu adalah seseorang yang berada di Sidoarjo.
"Terus yang kedua, Faruq itu jualan minyak jelantah, bekas minyak goreng dijual kembali. Yang beli itu orang Sidoarjo katanya. Katanya, orangnya itu udah transfer Rp60 juta atau berapa gitu," lanjutnya.
Sumber tidak tahu pasti kapan uang yang ditransfer itu diterima Faruq. Namun setelahnya, dia mendapat teror di ponselnya yang diduga dari pembeli minyak jelantah itu. Ada dugaan setelah ditransfer, minyak tersebut tidak dikirim oleh Faruq.
"Selasa minggu kemarin itu udah diteror sama yang beli minyak jelantah itu. Itu (korban) cerita ke temanku kerjaan juga. Kalau (dibunuh) karena masalah minyak jelantah, aku rasa tidak lah," ungkapnya.
BACA JUGA:Misteri Pembunuhan Wonokusumo Jaya Surabaya, Polisi Sisir Rekaman CCTV
Berdasar penalaran sumber, bila seseorang di Sidoarjo yang diduga jadi pelaku itu menyewa pembunuh bayaran, itu tak sebanding dengan nilai kerugian yang dialaminya. Sebab sepengetahuannya, uang yang ditranfer ke Faruq itu sebesar Rp60 juta.
"Kalau seumpama sewa pembunuh bayaran kan bayarnya lebih mahal daripada kerugiannya. Kemungkinan bukan soal minyak ini. Perempuan kataku," jelasnya.
Sementara sebelum Faruq ditemukan tewas di pinggir warung kopi, dia sempat berkunjung ke salah satu Pondok Pesantren besar di daerah Kedinding pada Sabtu 17 Januari 2026 sekitar pukul 22.00 WIB. Kemudian sekitar pukul 00.00 WIB, dia bergeser ke rumah temannya di daerah Jalan Platuk.
"Dari pondok kedinding jam 10, terus jam 12 itu kumpul ke Platuk, basecamp. Ya nongkrong di rumah temen-temen," paparnya.
Sumber:
