Berhenti Makan Sebelum Kenyang
Ilustrasi--
Tiba saatnya kita mencermati data kenaikan angka penderita penyakit metabolik di Kota Surabaya. Data itu menunjukkan terjadinya peningkatan persentase orang dengan tekanan darah tinggi, diabetes, dan obesitas yang berpeluang menyebabkan masalah kesehatan sistemik, seperti meningkatnya penyakit jantung dan ginjal. Bahkan, keadaan itu juga terjadi di kalangan orang muda. Pemerintah kota menggambarkan temuan itu sebagai “kondisi darurat” , yang antara lain terlihat melalui dikeluarkannya surat edaran tentang pengaturan pembatasan konsumsi gula, garam dan lemak.
Informasi semacam itu seyogyanya menjadi perhatian warga kota agar bergegas melakukan upaya yang bersifat antisipasi. Yaitu, untuk mencegah memburuknya kondisi kesehatan, yang berpotensi menurunkan kualitas sumber daya manusia. Upaya yang tetap terpilih untuk tujuan itu adalah melalui perbaikan pola makan dan minum. Alasannya, karena selain menjadi kebutuhan untuk mempertahankan hidup, makan dan minum ternyata memang adalah sumber kenikmatan. Kenikmatan yang timbul karena kelezatan biasanya sulit dikendalikan, dan selalu akan diburu tanpa henti. Cobalah mengamati antrean panjang konsumen yang ingin membeli dan menikmati makanan atau minuman yang sedang ngetrend, yang dipromosikan di berbagai food centers, coffee shops, warung dan sejenisnya.
BACA JUGA:Lemak dan Kenikmatan Sesaat
Ada sebuah cara yang perlu dicoba untuk mengendalikan dan mengatur pola makan dan minum. Yaitu dengan memahami dan melaksanakan ajaran dalam agama Islam yang intinya mengajak kita untuk berhenti makan sebelum kenyang. Belum tepat bila ajaran itu sekadar diartikan sebagai anjuran untuk tidak makan secara berlebihan. Mengapa? karena sesungguhnya terkandung makna filosofis yang mengajarkan, bahwa kegiatan makan dan minum perlu dilakukan dengan kesadaran tinggi sebagai upaya pengendalian diri.
Yaitu kesadaran yang membuat orang selalu waspada untuk mendengarkan dan mengantisipasi datangnya sinyal rasa kenyang atau “sudah cukup” dari otak. Begitu sinyal terdengar, maka tibalah saatnya untuk berhenti makan dan minum, yaitu kondisi yang diperlukan bagi terjaganya keadaan keseimbangan. Artinya, tidak lagi ada kelebihan atau kekurangan makan dan minum, dan tidak ada lagi kebiasaan ngemil atau makan setiap saat.

Mini kidi--
Pengendalian dan kesadaran itu secara pasti mampu membiasakan tubuh untuk mengenal dan memilih jenis asupan yang membuat tubuh kuat, sehat, tumbuh dan berkembang secara baik. Sebaliknya, tubuh juga bisa mengenal asupan yang membuat tubuh menjadi makin lemah dan tidak berdaya.
Yang Diperlukan Tubuh
Mengendalikan makan dan minum perlu memahami perlunya asupan karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, serat, dan air dalam jumlah yang sesuai.
Menu sehat memang harus lengkap dan tidak perlu mahal. Nasi, telur, tempe, ikan, sayuran bayam, buah pepaya dapat menjadi pilihan sehari-hari. Telur menyediakan protein lengkap, bayam menyumbangkan vitamin dan mineral, sedangkan pepaya mengandung serat dan vitamin. Susu dapat melengkapi asupan protein dan kalsium, terutama jika sesuai dengan kebutuhan dan toleransi tubuh. Opor, gulai, atau sayur bersantan tetap dapat dinikmati dalam porsi secukupnya. Batasi makanan yang tinggi lemak jenuh, seperti gorengan, keju, sosis.
BACA JUGA:Saat Flu Menyerang
Kebutuhan energi dan nutrisi tergantung usia, jenis kelamin, aktivitas fisik, serta kondisi kesehatan umum. Orang dengan aktivitas fisik rutin tentu memerlukan asupan sumber energi lebih banyak, termasuk gula dan protein. Demikian pula, jumlah makanan berlemak perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi kesehatan masing-masing. Perhatikan, kecukupan protein penting pada orang dari segala usia untuk membantu mempertahankan massa dan kekuatan otot, agar postur dan gerakan tubuh tetap kuat.
Kebutuhan karbohidrat perlu dikendalikan, terutama pada orang dengan diabetes atau risiko gangguan metabolisme.
BACA JUGA:Jangan Anggap Remeh Asap
Sumber:










