iklan bhayangkara2

Wasiat Terakhir Mertua (2): Pengakuan Mertua di Ujung Senja

Wasiat Terakhir Mertua (2): Pengakuan Mertua di Ujung Senja

ilustrasi sejuta kisah rumah tangga menunggu di rumah sakit.--

Suatu sore, gelak tawa mewarnai kediaman Nirma dalam perayaan ulang tahunnya. Di tengah riuhnya kerabat yang hadir, seorang kerabat berseloroh penuh kelakar, "Bu Nirma, sekarang Laras ini sudah dianggap seperti anak kandung sendiri, kan?" Seketika, tawa di ruangan itu terhenti. Udara mendadak terasa berat.

Nirma hanya mengulas senyum tipis—senyuman yang terasa begitu dingin di mata Laras. "Anak kandung tetaplah darah daging sendiri," sahut Nirma perlahan.  "Kalau menantu... ya, selamanya tetaplah menantu."ucapnya.

Semua orang tertawa kecil, menganggapnya sekadar gurauan orang tua. Namun bagi Laras, bumi tempatnya berpijak seolah runtuh. Laras menunduk dalam-dalam, menahan tangis yang bergolak di dada. Di bawah kolong meja, jemarinya meremas jemari Henry

Sang suami menyambut genggaman itu dengan usapan lembut, menyalurkan kehangatan tanpa kata yang berarti: "Bersabarlah, Kasih..." Roda nasib berputar. Beberapa bulan berselang, tubuh renta Nirma mulai digerogoti penyakit ganas. Dokter menggeleng kepala, mengisyaratkan takdir yang kian mendekat.

BACA JUGA:Wasiat Terakhir Mertua (1): Jeritan Hati di Balik Senyum Mertua


Gempur Rokok Illegal--

Di saat-saat kelam itu, sosok yang paling setia berdiri di sisi pembaringannya justru Laras. Jemari lentik Laras yang mengganti botol infus, menuntun sendok demi sendok bubur ke mulut Nirma, serta membisikkan bait-bait doa ke telinganya. 

Bahkan tak jarang, Laras merelakan punggungnya pegal tertidur di kursi dingin ruang perawatan demi menjaga mertuanya. Suatu malam, ketika Henry sedang pergi mengurus administrasi Rumah Sakit, Nirma menggerakkan jemarinya yang makin kurus.

BACA JUGA:Suamiku Tergoda Janda Kaya (6): Penyesalan Terlambat dan Karma Sang Lelaki Kufur

"Mendekatlah, Laras..." bisiknya parau. Laras menggeser duduknya, menatap wajah senja yang kini dipenuhi garis-garis keriput itu. Ada pancaran aneh di matanya—sebuah tatapan penuh rahasia yang sulit diterjemahkan. "Iya, Bu..." "Jika suatu hari nanti Ibu sudah tidak ada lagi di dunia ini..."

Dengan cepat Laras menggenggam tangan yang makin dingin itu. "Jangan bicara seperti itu, Bu. Ibu harus sembuh." Nirma tersenyum sumbang. "Ada sesuatu... yang harus kamu ketahui..."

Belum sempat kalimat itu tuntas diucapkan, dadanya terguncang hebat oleh batuk yang menyiksa. Perawat berhamburan masuk merawatnya. Percakapan itu pun terputus, menyisakan misteri yang menggantung di udara. (atp/rdh/fer/bersambung)

 

Sumber: