iklan bhayangkara2
Pildun Banner

Suamiku Tergoda Janda Kaya (4): Saat Ranjang Pernikahan Mulai Dingin

Suamiku Tergoda Janda Kaya (4):  Saat Ranjang Pernikahan Mulai Dingin

ilustrasi sejuta kisah rumah tangga suami istri--

Sore itu, di sebuah aula hotel berbintang yang megah, Panca mendampingi Mirna dalam sebuah acara amal. Mirna tampil begitu anggun dengan gaun yang mengekspos kecantikannya yang matang. Di hadapan para sosialita dan pengusaha kelas atas, Mirna merapat, jemari lentiknya menyentuh lengan Panca.

"Perkenalkan, ini Pak Panca. Partner bisnis kepercayaan saya. Berkat sentuhan magis Pak Panca, proyek-proyek kami berjalan luar biasa," ucap sedap Mirna memuji.

Gemuruh tepuk tangan menggema. Dada Panca membusung. Ada rasa bangga, rasa dihargai, dan rasa superioritas lelaki yang membakar jiwanya. Perasaan yang sudah lama mati di ranjang pernikahannya yang monoton bersama Utari.

Saat riuh acara mereda dan menyisakan keheningan di dalam mobil, Mirna menatap Panca dengan tatapan mata yang dalam, sarat akan getaran asmara yang tertahan. "Terima kasih... kamu selalu ada untukku, Panca."

Panca menatap balik netra indah itu, jiwanya terbuai. "Harusnya aku yang berterima kasih, Mirna. Tanpa bantuanmu, aku bukan siapa-siapa lagi."

Mirna tersenyum manja, jemarinya mengusap lembut punggung tangan Panca. "Lelaki sepertimu... sangat langka di dunia ini."

BACA JUGA:Suamiku Tergoda Janda Kaya (3): Madu Beracun di Luar Rumah


Gempur Rokok Illegal--

Kalimat puji-pujian itu bagai racun manis yang meresap ke dalam aliran darah Panca, terus terngiang-ngiang sepanjang jalan pulang, membuat dadanya bergemuruh hebat. Pintu rumah terbuka.

Suasana sepi menyambut Panca yang pulang larut malam. Di atas meja makan, hidangan yang dimasak Utari sudah mendingin, membeku bersama waktu yang terbuang. Di atas sofa, Dika, anak lelakinya, telah terlelap dalam mimpi. Tangan kecilnya masih mendekap sebuah piagam penghargaan juara lomba.

Deg! Jantung Panca bagai dihantam gada besi. Panca terpaku. Ia baru tersadar, hari ini adalah hari pentas seni anaknya. Janji yang telah ia lumat habis demi ego dan kemewahan.

"Mas..." sebuah suara lirih memecah keheningan. Utari berdiri di kegelapan koridor dengan mata sembab.  "Dika menang, Mas. Dia juara..."ucap Utari

BACA JUGA:Suamiku Tergoda Janda Kaya (2): Saat Bisnis Berubah Jadi Bisikan Asmara

Panca menatap tubuh kecil anaknya yang tertidur, lalu beralih pada wajah istrinya yang kuyu. Rasa bersalah yang teramat sangat seketika menghujam dadanya, mencabik nuraninya.  "Aku... aku lupa, Tari."ucap Panca

Utari menghela napas panjang, seolah mengeluarkan seluruh beban yang menghimpit dadanya.  "Bukan cuma sekali ini kamu lupa, Mas. Kamu sudah sering lupa pada kami.

" Panca melangkah maju, berniat merengkuh tubuh istrinya untuk meredam rasa bersalah. Namun dengan halus, Utari menghindar. Langkahnya mundur setapak. "Kamu marah, Tari? Maafkan aku..."ucap Panca.

Utari menggeleng lemah. Air matanya menetes satu-satu tanpa suara. "Aku tidak sedang marah, Mas." "Lalu kenapa?"tanya Panca

Utari menatap tajam, langsung ke dalam manik mata suaminya, seolah ingin mencari sisa-sisa cinta yang dulu pernah ada. "Aku cuma takut..."

"Takut apa, Utari?!" Panca mulai tak sabar. "Aku takut... suatu hari nanti, kami benar-benar akan kehilangan dirimu. Kehilangan hati dan jiwamu."ucap Utari

Panca membuang muka, tersenyum sinis demi menutupi kegamangan hatinya. "Kamu terlalu berlebihan, Tari. Pikiranmu terlalu jauh." "Semoga... semoga memang aku yang salah menilai," bisik Utari pasrah.

Malam itu, ranjang pernikahan mereka terasa amat dingin bagai es di kutub. Mereka berbaring berdampingan namun hati mereka terpisah jutaan kilometer. Panca memejamkan mata, namun bayang-bayang Utari lenyap. Yang berkelebat di benaknya justru senyuman menantang dari Mirna, kehangatan sentuhannya, dan gemerlap dunia malam yang penuh kemewahan.

Panca tidak pernah menyadari, bahwa yang sedang merenggut dirinya dari pelukan hangat keluarga bukan sekadar sosok wanita penggoda yang cantik. Melainkan rasa nyaman dan candu kemewahan duniawi yang telah membutakan mata hatinya.

Ah, betapa seringnya seorang lelaki tak pernah sadar bahwa ia sedang kehilangan istana dan rumah sejatinya, hanya karena ia terlampau sibuk dan mabuk menikmati indahnya taman fatamorgana di luar sana...(atp/rdh/fer/bersambung)

Sumber: