Antara Cinta dan Harta (3): Angin Badai di Ujung Cinta
ilustrasi sejuta kisah rumah tangga saat konflik.--
Malam itu begitu kelam, sekelam hati Bintang yang mulai dirayapi kegetiran. Rumah yang biasanya hangat oleh senandung rindu, kini mendadak beku. Tak ada lagi tawa renyah Bulan yang dulu selalu menjadi pelipur lara di kala lelah.
Bukan karena api cinta di dada Bintang telah padam. Bukan pula karena Bulan telah berpaling hati. Kedamaian mereka robek justru karena sebuah nama ibu mertua yang kian hari kian menjelma menjadi duri dalam rumah tangga mereka.
Pada mulanya, bagai seorang lelaki sejati yang memegang teguh janji suci, Bintang rela mengalah. Ketika sang ibu mertua terbaring sakit, tanpa kedip ia merogoh kocek demi biaya rumah sakit.
Saat adik iparnya merengek butuh modal usaha, tabungan masa depannya rela ia pangkas. Bahkan, demi air mata Bulan, Bintang rela melepaskan jam tangan emas hadiah kelulusannya—sebuah benda penuh kenangan—hanya untuk membetulkan motor sang adik ipar.
BACA JUGA:Antara Cinta dan Harta (2): Badai Rumah Tangga di Tangan Mertua

Mini Kidi Wipes.--
Ia tak pernah mengeluh. Di bawah langit malam, ia selalu berbisik pada dirinya sendiri, “Keluarga adalah segalanya.” Namun, air susu dibalas air tuba. Kebaikan yang tulus itu perlahan dikikis waktu, berubah menjadi sebuah kewajiban yang mencekik leher.
Sore itu, gumpalan awan mendung menggantung rendah. Bulan melangkah ragu, tangannya gemetar menyerahkan selembar brosur kertas mengkilap ke hadapan suaminya.
“Mas…” bisiknya, suaranya parau, nyaris tenggelam dalam desar angin sore. “Iya, Bulan?” Bintang menatap lembut, meski gurat lelah tak bisa disembunyikan dari wajah tampannya. “Ibu… Ibu ingin pindah rumah.” Bintang meraih brosur itu.
Demi Tuhan, jantungnya bagai berhenti berdetak! Angka yang tertera di sana sungguh gila, hampir tiga kali lipat dari harga rumah yang kini tengah mereka cicil dengan cucuran keringat. “Ibu minta kita yang menutup uang mukanya, Mas.”ungkap Bulan.
Bintang menarik napas dalam-dalam, lalu meletakkan kertas jahanam itu ke atas meja kaca. “Bulan… sadarlah. Kita sendiri masih megap-megap membayar cicilan rumah ini.”ucap Bintang. “Aku tahu, Mas…” Bulan menunduk, meremas jemarinya sendiri. “Tabungan untuk masa depan anak-anak kita pun belum seberapa.”ungkap Bintang
Suasana mencekam. Bulan terdiam sejenak, namun ego yang telah dihasut membuat bibirnya kembali berucap, “Tapi Ibu bilang, kalau bukan kita yang membantu, siapa lagi? Kita kan keluarganya…”jawab Bulan.
Sebuah senyuman getir mengembang di sudut bibir Bintang. Senyuman seorang lelaki yang jiwanya mulai terkoyak. “Lalu, Bulan… siapa yang akan membantu anak-anak kita nanti kalau semua tabungan kita habis diperas untuk orang lain?”tegas Bintang.
BACA JUGA:Antara Cinta dan Harta (1): Ketika Cinta Ditimbang di Atas Kemilau Harta

Gempur Rokok Illegal--
Bulan bungkam. Lidahnya mendadak kelu. Namun, sebelum kebenaran itu meresap ke dalam dadanya, tiba-tiba telepon genggam di atas meja menjerit nyaring. Layar digital itu berkedip, menampilkan satu nama: Ibu. Dengan tangan gemetar, Bulan menggeser tombol hijau. “Iya, Bu…”jawab Bulan.
Suara di seberang sana melengking tinggi, menembus speaker, menampar dinding-dinding kamar yang sunyi. Bintang bisa mendengar setiap kata yang meluncur bagai anak panah beracun. “Bulan! Kalau suamimu itu benar-benar cinta dan sayang sama kamu, masa perkara begini saja dia pelit? Gak mau bantu? Lelaki macam apa dia?!”
Bulan memandang suaminya. Tatapan matanya yang dulu bening, kini dipenuhi kabut kebimbangan yang meracuni pikiran. Setelah sambungan terputus, dengan suara lirih Bulan berkata,
“Mas… mungkin yang dikatakan Ibu ada benarnya. Selama ini… kita kan hidup berkecukupan.”ucap Bulan. “Kita berkecukupan karena kita tahu diri, Bulan! Karena kita belajar menahan nafsu!” Potong Bintang cepat. Suaranya tenang, namun di dalamnya bergemuruh badai rasa sakit. (atp/rdh/fer/bersambung)
Sumber:






