Menuju ultah ke-8 memorandum.co.id
HJKS Banner
SFF 20266

RS Menur Tangani Pasien Judol Anak dan Remaja, Mayoritas Sudah Tak Bisa Lepas dari HP

RS Menur Tangani Pasien Judol Anak dan Remaja, Mayoritas Sudah Tak Bisa Lepas dari HP

Dokter Klinik Gangguan Belajar Anak, Instalasi Jiwa Anak dan Remaja RS Menur, Ivana Sajogo, dr., Sp.KJ., Subsp.A.R (K), --

SURABAYA, MEMORANDUM.DISWAY.ID - Fenomena kecanduan digital pada anak dan remaja di Jawa Timur kian mengkhawatirkan. Tidak hanya game online, kasus judi online (judol) juga mulai menyeret anak usia sekolah hingga harus menjalani perawatan di rumah sakit jiwa

Di RS Menur Surabaya, sebagian pasien bahkan datang dalam kondisi sudah tidak mampu mengontrol penggunaan telepon genggam.

BACA JUGA:Darurat Gangguan Mental Di Jatim, RS Menur Tangani 77.920 Pasien Sepanjang 2025


Mini Kidi Wipes.--

Dokter Klinik Gangguan Belajar Anak, Instalasi Jiwa Anak dan Remaja RS Menur, Ivana Sajogo, dr., Sp.KJ., Subsp.A.R (K), mengungkapkan, kasus anak yang datang untuk penanganan umumnya bersifat kompleks dan tidak berdiri sendiri. Banyak yang berawal dari kecanduan game online, lalu berkembang ke perilaku adiktif lain seperti pornografi hingga judi online.

"Kasus anak yang datang itu biasanya kompleks, tidak hanya karena judi online saja. Kebanyakan justru berawal dari game online, kemudian bisa berkembang ke arah lain, termasuk judi online," ujar dr Ivana. 

BACA JUGA:Ganti Nama Jadi RS Menur, Kunjungan Layanan Kesehatan Mental Meningkat


Gempur Rokok Illegal--

Menurut dr Ivana, penanganan pasien anak dan remaja berbeda dengan orang dewasa karena mereka masih berada dalam pengawasan keluarga dan belum memiliki penghasilan sendiri. Faktor lingkungan, pola asuh, hingga relasi sosial sangat memengaruhi munculnya kecanduan digital pada usia muda.

"Pada anak dan remaja, penanganannya berbeda dengan orang dewasa karena mereka masih berada di bawah pengawasan orang tua. Selain itu, mereka juga belum memiliki penghasilan sendiri, sehingga biasanya ada faktor lingkungan atau keluarga yang ikut berperan," ungkapnya. 

Sebagian besar pasien yang masuk ke RS Menur menjalani rawat inap karena perilaku penggunaan HP sudah sulit dikendalikan. Anak-anak tersebut biasanya dibawa oleh orang tua, guru, bahkan RT setempat. Hal ini karena keluarga sudah merasa kewalahan menghadapi perubahan perilaku mereka.

BACA JUGA:Senator Lia Apresiasi Wajah Baru RS Menur, dari Modernisasi Khofifah hingga Jadi Tameng Mental Anak dari Gawai

Ia menjelaskan, tanda awal kecanduan digital pada anak biasanya terlihat dari perubahan perilaku sehari-hari. Anak mulai malas sekolah, enggan beraktivitas, lebih suka mengurung diri di kamar, tidak mau bersosialisasi, hingga mengabaikan kebersihan diri seperti tidak mandi atau tidak ganti pakaian.

"Mereka ini lebih suka menyendiri di kamar, tidak mau bergaul, hingga mengabaikan diri sendiri seperti tidak mandi atau tidak ganti baju. Emosinya juga menjadi tidak stabil," imbuhnya. 

Sumber: