Menuju ultah ke-8 memorandum.co.id
SFF 20266

Dilema Cancel Culture di Dunia Virtual, Skandal Agensi Dexter dan Rapuhnya Reputasi VTuber

Dilema Cancel Culture di Dunia Virtual, Skandal Agensi Dexter dan Rapuhnya Reputasi VTuber

Anggota dari Dexter yaitu Rex Arcadia, Lucentia, Noa Florastra, dan Richard Ravindra yang memutuskan melanjutkan karir masing-masing.(Sumber akun Twitter Dexter official @executivedexter)--

SURABAYA, MEMORANDUM.DISWAY.ID - Perkembangan dunia hiburan digital melahirkan berbagai bentuk entertainer baru, salah satunya adalah VTuber atau virtual YouTuber. VTuber merupakan kreator konten yang menggunakan avatar virtual untuk berinteraksi dengan penonton melalui livestream, video, maupun media sosial. Popularitas VTuber kini semakin meningkat, khususnya di kalangan generasi muda yang aktif dalam digital.

Namun, di balik popularitas tersebut, industri VTuber juga tidak lepas dari berbagai kontroversi dan fenomena cancel culture. cancel culture merupakan tindakan publik berupa boikot, kritik massal, atau penolakan terhadap figur publik akibat perilaku, ucapan, maupun skandal tertentu yang dianggap bermasalah oleh masyarakat internet.

BACA JUGA:Mulai Babak Baru Berkarier Musik, Lucas Resmi Akhiri Kontrak Eksklusif dengan SM Entertainment


Mini Kidi Wipes.--

Fenomena ini beberapa kali muncul dalam komunitas VTuber dan memicu perdebatan besar di media sosial salah satunya di twetter dan tiktok. Salah satu contoh skandal yang ramai dibicarakan baru baru ini adalah kontroversi yang melibatkan salah satu VTuber dari agensi Dexter. Salah satu membernya terkena kasus berupa penggelapan dana untuk bantuan bencana alam dan didonasikan malah digunakan untuk kepentingan pribadi. Oleh karena itu, semua member Dexter memutuskan untuk menghentikan seluruh kegiatan bersama project Dexter dan melanjutkan kegiatan masing-masing. 

Skandal tersebut menimbulkan berbagai reaksi dari penggemar, mulai dari kritik, pembelaan, menerapkan cencel culture, hingga perdebatan di platform media sosial.beberapa indormasi yang berkembang cepat di twetter dan tiktok beredar sangat cepat seperti unggahan media sosial maupun opini dari pengguna internet yang sering kali langsung memengaruhi pandangan publik terhadap seorang virtual entertainer. Akibatnya, reputasi VTuber maupun agensi dapat berubah hanya dalam waktu singkat.

BACA JUGA:Ten Lee Resmi Hengkang dari SM Entertainment, Tetap Perkuat NCT dan WayV Meski Kontrak Berakhir

Beberapa fans yang menerapkan cancel culture terhadap VTuber juga menunjukkan kuatnya hubungan sosial antara penggemar dan entertainer virtual. Meskipun hanya berinteraksi melalui layar dan avatar digital, banyak penggemar merasa memiliki kedekatan emosional dengan VTuber favorit mereka. Hal ini membuat sebagian penggemar tetap memberikan dukungan meskipun muncul kontroversi, sementara sebagian lainnya memilih meninggalkan fandom.


Gempur Rokok Ilegal. Ini Ciri-ciri rokok Ilegal.--

Fenomena ini memperlihatkan bahwa budaya internet memiliki pengaruh besar terhadap industri hiburan digital modern. Cancel culture tidak hanya berdampak pada reputasi individu, tetapi juga memengaruhi komunitas penggemar, citra agensi, serta dinamika komunikasi di media sosial. Oleh karena itu, penggunaan media sosial secara bijak serta sikap kritis dalam menerima informasi menjadi hal penting agar sebuah kontroversi tidak berkembang menjadi serangan digital yang berlebihan.

Sumber:

Berita Terkait