Menuju ultah ke-8 memorandum.co.id
SFF 20266

Tren No Buy Challenge Kian Populer di Kalangan Generasi Muda Era Digital

 Tren No Buy Challenge Kian Populer di Kalangan Generasi Muda Era Digital

Ilustrasi seseorang mendengarkan musik untuk menemani waktu belajar. -fexel-

SURABAYA, MEMORANDUM.DISWAY.ID – Tren No Buy Challenge semakin populer di kalangan generasi muda sebagai upaya mengurangi perilaku konsumtif dan membatasi pembelian barang tidak penting di era digital.

Tantangan tersebut dilakukan dengan cara membatasi pembelian barang yang tidak terlalu diperlukan dalam periode tertentu, mulai mingguan hingga bulanan.

Fenomena itu muncul karena banyak anak muda mulai menyadari kebiasaan belanja mereka sulit dikendalikan akibat sering melihat promo, diskon, dan konten rekomendasi produk di media sosial.

BACA JUGA:Harga Tiket Final FIFA World Cup 2026 Sentuh Rp 190 Juta, FIFA Dikecam Fans Global


Mini Kidi Wipes.--

Video haul, tren belanja online, hingga konten “racun” dinilai semakin mendorong perilaku konsumtif.

Dalam menjalani No Buy Challenge, seseorang biasanya hanya membeli kebutuhan penting dan menghindari pembelian impulsif seperti pakaian, skincare, atau barang lain yang sebenarnya masih layak digunakan.

Tantangan tersebut mulai dipilih sebagai cara mengatur keuangan sekaligus mengurangi pengeluaran yang tidak perlu.

Selain membantu menghemat pengeluaran, tren itu juga dianggap mampu melatih pengendalian diri dan meningkatkan kesadaran dalam membedakan kebutuhan dan keinginan.

Tidak sedikit generasi muda mengaku lebih mudah menabung setelah menerapkan tantangan tersebut. Namun, menjalankan No Buy Challenge tetap memiliki tantangan tersendiri.


Gempur Rokok Ilegal. Ini Ciri-ciri rokok Ilegal.--

Berbagai promo menarik, diskon besar, serta rasa takut tertinggal tren atau fear of missing out (FOMO) sering menjadi hambatan bagi banyak orang.

Saat ini, No Buy Challenge tidak hanya dipandang sebagai tren semata, tetapi juga mulai dianggap sebagai bagian dari gaya hidup sederhana di tengah tekanan ekonomi dan budaya konsumtif di era digital.

Sumber: