Menuju ultah ke-8 memorandum.co.id
SFF 20266

BPS Ungkap Angka Kelahiran di Jatim Turun di Bawah Ambang Ideal

BPS Ungkap Angka Kelahiran di Jatim Turun di Bawah Ambang Ideal

Plt Kepala BPS Jawa Timur Herum Fajarwati--

SURABAYA, MEMORANDUM.DISWAY.ID – Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur mencatat angka kelahiran total atau Total Fertility Rate (TFR) turun menjadi 1,95 berdasarkan Survei Penduduk Antarsensus (Supas) 2025.

Angka tersebut berada di bawah ambang pengganti generasi atau replacement level sebesar 2,10.

Data Supas 2025 menunjukkan TFR Jawa Timur terus mengalami penurunan dibanding hasil Long Form Sensus Penduduk 2020 sebesar 1,98.

Tren penurunan fertilitas tersebut juga telah berlangsung sejak 2010 ketika TFR Jawa Timur masih berada di angka 2,00.

BACA JUGA:Teken MoU dengan BPS, Pemkab Gresik Serius Bentuk Kebijakan Berbasis Data


Mini Kidi Wipes.--

Plt Kepala BPS Jawa Timur Herum Fajarwati mengatakan, tren tersebut menunjukkan fertilitas di Jawa Timur terus mengalami penyusutan meski dengan laju lebih lambat dibanding periode sebelumnya.

“Ini menegaskan fertilitas terus menurun. Jawa Timur kini sudah berada di bawah indikator replacement level 2,10, yang berarti rata-rata kelahiran perempuan tidak lagi cukup untuk menggantikan generasi sebelumnya,” kata Herum.

Menurut Herum, penurunan angka kelahiran tidak terjadi secara merata di seluruh daerah. Kota Surabaya tercatat memiliki TFR terendah di Jawa Timur yakni 1,70.

Sementara Kabupaten Sampang menjadi wilayah dengan angka tertinggi sebesar 2,25.

“Disparitas ini memperlihatkan adanya perbedaan karakteristik sosial, budaya, ekonomi, hingga akses layanan kesehatan reproduksi di masing-masing daerah," ucap Herum.

Di Pulau Jawa, setelah Kota Surabaya, daerah dengan TFR tinggi antara lain Kota Pasuruan 2,10, Kabupaten Kediri 2,09, Kabupaten Jombang 2,08, dan Kabupaten Malang 2,08.

Sementara di Pulau Madura, Kabupaten Bangkalan yang memiliki TFR terendah sekalipun masih berada di angka 2,07 atau masuk delapan besar daerah dengan tingkat fertilitas tertinggi di Jawa Timur.


Gempur Rokok Ilegal. Ini Ciri-ciri rokok Ilegal.--

Selain jumlah anak, pola usia melahirkan perempuan juga berubah signifikan.

BPS mencatat angka kelahiran remaja usia 15–19 tahun turun drastis dari 41,40 kelahiran per 1.000 perempuan pada 2010 menjadi 15,98 pada 2025.

Di sisi lain, puncak fertilitas kini bergeser ke kelompok usia 25–29 tahun.

Angka kelahiran pada kelompok usia 30–44 tahun juga meningkat dibanding periode sebelumnya.

Fenomena tersebut menunjukkan kecenderungan masyarakat untuk menunda pernikahan maupun kehamilan.

“Pergeseran ini menunjukkan perubahan pola reproduksi masyarakat. Perempuan kini cenderung melahirkan di usia lebih matang dibanding satu dekade lalu,” terang Herum.

Ia menilai tren penurunan fertilitas dapat dipandang sebagai keberhasilan pengendalian penduduk namun tetap menghadirkan tantangan baru.

“Sekilas ini bisa dibaca sebagai keberhasilan pengendalian penduduk. Namun di sisi lain, ini juga sinyal peringatan. Jika tren berlanjut tanpa strategi adaptasi, Jawa Timur berpotensi menghadapi penuaan penduduk lebih cepat dan berkurangnya tenaga produktif di masa depan,” tegasnya.

Tak hanya TFR, angka kelahiran kasar atau Crude Birth Rate (CBR) Jawa Timur juga ikut turun.

BACA JUGA:BPS Lumajang Tekankan Pentingnya Analisis Data untuk Perencanaan Pembangunan

SUPAS 2025 mencatat terdapat 13,96 kelahiran hidup per 1.000 penduduk atau turun 0,66 poin dibanding 2020.

Angka tersebut menjadikan Jawa Timur sebagai provinsi dengan CBR terendah ketiga di Indonesia setelah Daerah Istimewa Yogyakarta dan Daerah Khusus Jakarta.

Di tengah tren tersebut, penggunaan kontrasepsi di Jawa Timur tergolong tinggi.

Angka Contraceptive Prevalence Rate (CPR) mencapai 67,91 persen atau lebih tinggi dibanding rata-rata nasional sebesar 62,56 persen.

“Persoalannya sekarang bukan lagi sekadar menekan angka kelahiran, tetapi bagaimana menyiapkan keseimbangan baru antara bonus demografi dan risiko krisis penduduk usia produktif,” pungkas Herum. (ain)

 

Sumber: