Antara Ambisi dan Kesehatan Mental: Mengapa Gen Z Beralih ke Slow Living?
ilustrasi--
SURABAYA, MEMORANDUM.DISWAY.ID - Seseorang pernah berkata, “hidup untuk bekerja, kerja untuk hidup,” dan dalam banyak hal, ungkapan ini memang terasa relevan. Tak jarang, seseorang mendedikasikan hidupnya secara ekstrem hanya untuk bekerja, hingga melupakan kehidupan yang lebih santai dan seimbang.
Fenomena ini dikenal sebagai hustle culture—sering dianggap keren, padahal ambisi berlebih justru dapat berujung pada burnout, gangguan kesehatan mental, hingga penyakit fisik seperti kardiovaskular.
BACA JUGA:Asah Mentalitas Land of Dawn, Dafam Infinity Battle Season 2 Resmi Digelar di Surabaya

Mini Kidi Wipes.--
Sebagai respons terhadap kondisi tersebut, banyak generasi Z mulai beralih ke gaya hidup slow living—menjalani hidup dengan lebih santai, sadar, dan mindful.
Pergeseran ini menjadi bentuk reaksi alami terhadap kejenuhan. Berikut beberapa alasan mengapa anak muda, khususnya di Jakarta, mulai meninggalkan hustle culture dan beralih ke slow living:
1.Kesadaran akan kesehatan mental
Jika generasi sebelumnya memandang kerja lembur sebagai bentuk dedikasi, Gen Z justru melihatnya sebagai jalan menuju burnout. Di kota seperti Jakarta, dengan kepadatan penduduk tinggi dan kemacetan yang bisa memakan waktu 2–3 jam per hari, beban kerja berlebih terasa semakin tidak rasional jika harus mengorbankan kesehatan mental.
BACA JUGA:Bayern Bangkit dari 0-3, Kane Puji Mental Juara Usai Comeback Bersejarah

Ayo bolo kita gempur rokok ilegal.--
2. Dampak pasca pandemi
Pandemi COVID-19 mengubah perspektif banyak orang. Kehilangan orang terdekat membuat mereka lebih menghargai waktu bersama keluarga dan orang tersayang. Kini, work-life balance menjadi prioritas yang tidak bisa ditawar.
3. Tren quiet quitting dan soft life
Tren ini mendorong gaya hidup yang lebih minim stres. Batasan kerja menjadi lebih jelas, seperti tidak membalas pesan kantor di luar jam kerja, serta lebih menghargai proses daripada hasil instan.
Sumber:








