Tradisi Ramadan Unik di Berbagai Negara, dari Ngabuburit Indonesia hingga Fanous di Mesir
Ilustrasi suasana Ramadan yang identik dengan kegiatan ibadah dan tradisi masyarakat Muslim di berbagai negara.-(sumber foto: freepik)-
SURABAYA, MEMORANDUM.DISWAY.ID - Bulan suci Ramadan tidak hanya menjadi waktu bagi umat Muslim untuk menjalankan ibadah puasa, tetapi juga menghadirkan beragam tradisi unik yang berkembang di berbagai belahan dunia.
BACA JUGA:Mengenal Iktikaf di 10 Malam Terakhir Ramadan: Hukum, Tata Cara, dan Manfaatnya
Setiap negara memiliki cara tersendiri dalam merayakan Ramadan yang dipengaruhi oleh budaya lokal, sejarah, serta kebiasaan masyarakat setempat.

Mini Kidi Wipes.--
Tradisi-tradisi ini tidak hanya memperkaya pengalaman spiritual selama Ramadan, tetapi juga menjadi simbol kebersamaan dan identitas budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.
BACA JUGA:Bocoran Kode Redeem Free Fire Maret 2026, Klaim Skin Senjata hingga Token Gratis Spesial Ramadan
Di Indonesia, salah satu tradisi yang paling dikenal adalah ngabuburit, yaitu kegiatan menunggu waktu berbuka puasa dengan berbagai aktivitas santai.
Masyarakat biasanya menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan, berburu takjil, bermain bersama teman, atau mengikuti kegiatan komunitas.
BACA JUGA:7 Ide Takjil Buka Puasa Selasa Ini: Menu Sederhana yang Tetap Nikmat di 10 Hari Terakhir Ramadan
Tradisi ini menjadi bagian dari kehidupan sosial selama Ramadan karena menghadirkan suasana kebersamaan dan kegembiraan menjelang waktu berbuka.
Di berbagai kota besar, area publik seperti taman, pasar Ramadan, hingga pusat kuliner sering dipenuhi oleh masyarakat yang mencari makanan berbuka.
BACA JUGA:Jangan Lewatkan! Ini Amalan Hari Jumat di Bulan Ramadan yang Mendatangkan Pahala
Sementara itu di Turki, terdapat tradisi yang dikenal sebagai Ramadan drummers atau penabuh drum sahur.
Tradisi ini telah berlangsung selama ratusan tahun sejak masa Kesultanan Ottoman. Para penabuh drum berkeliling di lingkungan perumahan pada dini hari sambil memainkan irama khas untuk membangunkan warga agar bersiap menyantap sahur.
BACA JUGA:Bukan Sekadar Sunnah, Ini Alasan Kurma Identik dengan Ramadan
Meskipun kini teknologi seperti alarm ponsel sudah banyak digunakan, tradisi ini masih dipertahankan sebagai bagian dari warisan budaya dan sering menjadi daya tarik wisata selama Ramadan.
Berbeda lagi dengan di Mesir yang memiliki tradisi Fanous Ramadan. Fanous adalah lentera warna-warni yang biasanya dipasang di rumah, jalan, atau toko selama bulan Ramadan.
Tradisi ini diyakini sudah ada sejak era Dinasti Fatimiyah dan hingga kini menjadi simbol khas Ramadan di Mesir.
BACA JUGA:Prediksi Malam Lailatul Qadar Ramadan 2026 dan Amalan yang Wajib Diketahui!
Lentera-lentera tersebut menciptakan suasana meriah di malam hari, terutama di kawasan pasar dan pusat kota. Banyak keluarga juga membeli fanous untuk anak-anak sebagai bagian dari perayaan Ramadan.
Di Maroko, terdapat tradisi unik berupa penggunaan meriam sahur atau meriam penanda waktu berbuka. Ketika matahari terbenam, meriam akan ditembakkan sebagai tanda bahwa waktu berbuka puasa telah tiba.
Tradisi ini berasal dari masa lalu ketika belum ada sistem waktu modern yang mudah diakses masyarakat.
BACA JUGA:5 Tips Agar Tidak Terdistraksi HP dan Tetap Khusyuk di Bulan Ramadan
Meskipun kini jadwal waktu berbuka sudah tersedia melalui berbagai media, tradisi meriam ini tetap dipertahankan sebagai simbol sejarah dan identitas budaya selama Ramadan.
BACA JUGA:Tips Tetap Konsentrasi dan Produktif Kerja di Bulan Ramadan
Sementara itu di Pakistan, terdapat tradisi yang disebut Chaand Raat, yaitu perayaan malam terakhir sebelum Hari Raya Idulfitri. Pada malam ini, masyarakat biasanya berkumpul di pasar untuk berbelanja pakaian baru, perhiasan, dan makanan khas Lebaran.
Perempuan sering menghias tangan mereka dengan henna atau mehndi sebagai bagian dari persiapan menyambut hari raya. Suasana pasar biasanya sangat meriah hingga larut malam karena masyarakat merayakan datangnya bulan Syawal setelah sebulan menjalankan ibadah puasa.

Gempur Rokok Ilegal.--
Keberagaman tradisi Ramadan di berbagai negara menunjukkan bagaimana nilai-nilai spiritual dapat berpadu dengan budaya lokal yang berbeda-beda. Meskipun bentuk perayaannya tidak sama, esensi Ramadan tetap berpusat pada ibadah, kebersamaan, dan kepedulian terhadap sesama.
Tradisi-tradisi tersebut juga menjadi pengingat bahwa Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga tentang memperkuat hubungan sosial serta menjaga warisan budaya yang telah lama hidup di tengah masyarakat.
BACA JUGA:Tips Memilih Semangka Manis dan Segar untuk Berbuka Puasa Ramadan
Melalui berbagai tradisi unik ini, Ramadan menjadi momen yang tidak hanya penuh makna secara spiritual, tetapi juga kaya akan nilai budaya yang mempererat hubungan antar manusia di berbagai penjuru dunia. (Mg/Luthfi Rahmanda)
Sumber:




