Cegah Perundungan, Dispendik Surabaya Aktifkan Peran Konselor Sebaya di Sekolah dan Optimalkan Kolaborasi
Kepala Bidang (Kabid) Pendidikan Dasar Dispendik Kota Surabaya, Mohammad Sufyan. --
SURABAYA, MEMORANDUM.DISWAY.ID - Maraknya kasus perundungan (bullying) dan kenakalan remaja yang melibatkan pelajar di Kota Pahlawan akhir-akhir ini menjadi atensi serius.
Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya menegaskan bahwa penyelesaian masalah karakter anak tidak bisa diselesaikan oleh lingkungan sekolah saja, melainkan membutuhkan gotong royong dan kolaborasi lintas sektoral.
BACA JUGA:Dua Kasus Bullying Mencuat, Status Surabaya Kota Layak Anak Jadi Sorotan

Mini Kidi Wipes.--
Kepala Bidang (Kabid) Pendidikan Dasar Dispendik Kota Surabaya, Mohammad Sufyan, menyatakan bahwa pihaknya harus terus bergandengan tangan dengan berbagai instansi dan organisasi perangkat daerah (OPD) lainnya.
"Dispendik Surabaya tidak bisa bekerja sendiri. Kita harus bergotong royong, misalnya dengan DP3A-PPKB Surabaya, jajaran kepolisian, hingga melibatkan mahasiswa dari berbagai universitas untuk mengatasi penanganan bullying pada anak," ujar Sufyan diwawancarai Memorandum.
Sebagai langkah konkret, mulai Senin ini, Dispendik bersama Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3A-PPKB) Kota Surabaya akan meluncurkan program dinamika arek Surabaya hebat (DASH).
"Mulai Senin (hari ini, red), kita bekerja sama dalam program DASH atau dinamika arek Surabaya hebat, " jelasnya.

Gempur Rokok Illegal--
Program ini berfokus pada sosialisasi penanganan dinamika permasalahan anak, mulai dari perundungan hingga kenakalan remaja.
"Nanti kurang lebih ada seribu titik. Kami (Dispendik) menyediakan lokasinya, memetakan daerah dan anak-anak mana yang akan didatangi. Nanti anak-anak akan berkumpul bersama kepala sekolah dan guru pendampingnya, sementara narasumbernya diisi oleh tim dari DP3A-PPKB, kepolisian, dan kalangan mahasiswa," jelasnya.
Sufyan memaparkan, secara internal, karakter siswa di sekolah sebenarnya sudah dibentuk dengan kuat. Berbagai pembiasaan positif telah diterapkan, seperti salat duha, doa bersama sebelum pelajaran dimulai, hingga penerapan budaya 5S yakni senyum, sapa, salam, sopan, santun.
BACA JUGA:Polisi Edukasi Antibullying dan Bahaya Pergaulan Bebas
Sumber:







