selamat menunaikan ibadah ramadan 2026

Rachman Hadi Guru SLB Negeri Jember Dedikasikan Ramadan untuk Mengajar Alquran Braille

Rachman Hadi Guru SLB Negeri Jember Dedikasikan Ramadan untuk Mengajar Alquran Braille

Rachman Hadi (56), guru SLB Negeri Jember yang mengajar Alquran Braille.--

JEMBER, MEMORANDUM.DISWAY.ID – Rachman Hadi (56), guru SLB Negeri Jember, mendedikasikan Ramadan 1447 Hijriah dengan mengajar Alquran Braille secara gratis kepada penyandang disabilitas netra di Jember, Rabu 18 Februari 2026.


Mini Kidi Wipes.--

Sejak mengabdi pada 1993, ia tidak hanya berperan sebagai tenaga pendidik formal di sekolah. Di luar jam mengajar pukul 07.00 hingga 15.30 WIB, ia membuka kelas mengaji bagi anak-anak tunanetra tanpa memungut biaya.

“Saya ikhlas. Karena tidak semua orang mau dan mampu mengajar ngaji bagi tunanetra. Padahal, ini adalah kewajiban,” ujar Rachman saat ditemui di kediamannya.

BACA JUGA:Refleksi Setahun Kepemimpinan: Gus Fawait Siap Pacu 'Tahun Pembuktian' untuk Akselerasi Jember

Menurutnya, mendampingi siswa belajar Alquran Braille memiliki tantangan tersendiri. Selain keterbatasan jumlah guru, harga satu set Alquran Braille yang mencapai Rp 1 juta hingga Rp 2 juta untuk 30 juz menjadi hambatan akses.

Namun demikian, ia bersyukur kini banyak pihak memberikan wakaf sehingga hampir seluruh tunanetra di Jember telah memiliki Alquran pribadi.


Gempur Rokok Illegal--

Dari sekitar 140 tunanetra yang terdata di Jember, baru sekitar 30 orang yang mahir membaca Alquran dengan lancar.

“Perjuangan masih panjang,” imbuhnya.

Selain sebagai guru, ia juga aktif mengawal isu disabilitas melalui Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia dan Persatuan Tunanetra Indonesia. Ia menyoroti minimnya aksesibilitas fasilitas publik di Jember, seperti trotoar di Jalan Jawa yang sering terokupasi pedagang kaki lima sehingga jalur pemandu tidak berfungsi optimal.

BACA JUGA:Harga Menggila, Satgas Saber Pangan Jember Obrak-Abrik Pasar Tanjung

Ia juga mengkritik layanan kesehatan yang dinilai belum sepenuhnya ramah disabilitas, karena penyandang disabilitas masih sering diminta mengantre seperti masyarakat umum meski secara regulasi menjadi prioritas.

“Program pemerintah seringkali terkesan hanya formalitas di atas kertas karena kurang sosialisasi dan pengawasan,” tegasnya.

BACA JUGA:Jember Masuk 10 Besar Nasional Ombudsman, Komitmen Gus Fawait Perkuat Pelayanan Publik

Sejak 2003 hingga 2014, ia bersama aktivis difabel lainnya konsisten mengawal lahirnya regulasi perlindungan disabilitas di Jember. Meski implementasi di lapangan dinilai belum maksimal, ia menyatakan tetap berkomitmen melanjutkan perjuangan.

Bagi Rachman, keterbatasan fisik bukan penghalang untuk menebar manfaat. Dengan menumpang ojek daring, ia tetap berangkat setiap hari dengan semangat yang sama demi memastikan pendidikan Alquran dan hak kesetaraan terus terjaga. (Fbr)

Sumber: