selamat menunaikan ibadah ramadan 2026

Puasa dan Seni Merasa Cukup

Puasa dan Seni Merasa Cukup

Fatkhul Aziz--

Ada sebuah kesahajaan yang hilang ketika dunia berubah menjadi pasar yang tak pernah tidur. Di dalam riuh rendah algoritma yang membujuk kita untuk selalu menginginkan yang "lebih", puasa datang sebagai sebuah anomali. Ia bukan sekadar ritual menahan haus, melainkan sebuah seni merasa cukup.

Dalam lapar yang sengaja kita undang itu, ada sebuah pengakuan yang jujur bahwa sebenarnya, hidup tak butuh sebanyak itu.

BACA JUGA:TNI dan Labirin Gaza


Mini Kidi--
Gempur Rokok Illegal--

Kita hidup di zaman yang mengagungkan kecepatan dan kelimpahan. Namun, dalam puasa, kita belajar tentang penundaan. Kita diingatkan bahwa antara keinginan dan pemenuhan, harus ada jedah.

Di sinilah letak kearifannya. Keinginan seringkali bersifat tak terbatas, seperti cakrawala yang menjauh saat didekati. Kebutuhan sebenarnya punya batas yang amat jelas—segelas air dan sekerat kurma seringkali sudah memadai untuk mengembalikan hidup.

BACA JUGA:Gentengisasi

Ketika kita mampu berkata "tidak" pada yang tersedia di depan mata, kita sebenarnya sedang merebut kembali kedaulatan diri kita dari diktator bernama nafsu. Puasa mengajarkan bahwa kepuasan tidak selalu datang dari pemuasan, melainkan dari kemampuan untuk mengendalikan.

Namun, "merasa cukup" hari ini adalah sebuah tantangan etis yang berat. Di luar sana, kondisi sosial kita memperlihatkan jurang yang kian menganga. Ada mereka yang harus menghitung setiap butir nasi dan ada mereka yang membuang sisa pesta ke tempat sampah.

Jika puasa hanya berakhir pada meja makan yang lebih mewah saat azan magrib berkumandang, maka kita telah gagal menangkap seninya. Menjadi "cukup" berarti menyederhanakan diri agar orang lain bisa sekadar ada. Menyadari bahwa surplus yang kita miliki adalah hak mereka yang berkekurangan. Menghentikan kompetisi pamer kemewahan di ruang publik digital.

BACA JUGA:Harga Sebuah Tawa

Lapar puasa seharusnya mengasah nurani agar kita tak lagi buta pada kemiskinan yang seringkali hanya dianggap sebagai statistik. Merasa cukup adalah langkah awal dari solidaritas.

Pada akhirnya, seni merasa cukup dalam puasa adalah sebuah perjalanan menuju ke dalam. Di tengah perut yang kosong, kita menemukan ruang yang selama ini sesak oleh kebisingan duniawi. Dalam kesunyian itu, kita menemukan kembali jati diri kita yang asli: mahluk yang ringkih, yang bergantung pada napas, dan yang hanya akan merasa utuh ketika mampu berbagi.

Puasa adalah cara kita merayakan keterbatasan. Karena hanya dengan menyadari bahwa kita terbatas, kita bisa menghargai pemberian. Dan hanya dengan merasa cukup, kita bisa menjadi benar-benar merdeka.

Sumber: