HPN 2026

Alasan Petai Bau Menyengat dan Dampaknya bagi Tubuh

Alasan Petai Bau Menyengat dan Dampaknya bagi Tubuh

-Ilustrasi (sumber foto: freepik)-

SURABAYA, MEMORANDUM.DISWAY.ID - Siapa di sini yang selalu makan pakai petai? Tumbuhan dengan nama keren stink bean atau Parkia Speciosa ini memang sangat ahli dalam menambah nafsu makan. 

BACA JUGA:Bye Bau Mulut, Ini Cara Mudah Menjaga Kebersihan Mulut

Mau dibakar, disambal, atau dijadikan lalapan mentah, semuanya enak! Tak heran, si kecil ini nggak pernah absen dari piring masyarakat Asia Tenggara. 


Mini Kidi--

Namun, masalah klasik yang timbul setelah mengonsumsi petai adalah bau mulut! Bahkan bau ini bisa ngikutin sampai toilet. Lho. Duh, nggak banget deh ngobrol sama gebetan pas abis makan petai. 

BACA JUGA:Kentut Bau? Bisa Jadi Alarm Gangguan Pencernaan yang Tak Boleh Diabaikan

Tapi apa ya yang bikin petai nih bau? Ternyata, rahasianya ada pada kandungan kimia di dalamnya. Mengutip riset dari National University of Singapore (NUS), bau menyengat petai berasal dari asam amino non-protein yang mengandung unsur sulfur atau belerang yang sangat tinggi. 

Saat petai masuk ke sistem pencernaan, enzim di tubuh kita bakal memecah senyawa ini menjadi gas-gas seperti hydrogen sulfide, methyl mercaptan, dan dimethyl sulfide.

Gampangnya, senyawa sulfur ini mirip dengan apa yang ada pada telur busuk, jadi jangan heran kalau aroma yang keluar dari mulut atau urine jadi sangat menusuk karena tubuh kita lagi memproses "pabrik belerang" mini.

Meski baunya bikin ilfeel, senyawa sulfur dalam petai nggak jahat kok. Para peneliti di NUS menyebutkan kalau hydrogen sulfide dalam dosis kecil sebenarnya punya manfaat kesehatan, salah satunya membantu relaksasi pembuluh darah. 

Mark Wiens, food blogger kondang dari Migrationology, juga bilang kalau petai itu bukan sekadar soal bau, tapi soal karakter. Teksturnya yang renyah dan rasa nutty yang khas memberikan sensasi yang tak tergantikan. 

Jadi, buat kamu yang takut bau napas, coba deh cara klasik kayak minum kopi atau makan timun setelah makan. Intinya, jangan musuhi petainya, nikmati saja rasanya meski aromanya bikin semua orang salfok. (Mg/Dia Vionita Herlina)

Sumber: