Lari ke Pelukan Wanita Lain: Selalu ada Dia di Hatinya (1)
-Ilustrasi-
SETIAP kali masalah muncul, Bintang tidak pernah benar-benar tinggal.
Awalnya hanya hal kecil. Perdebatan tentang waktu pulang yang terlalu malam. Bulan berbicara dengan nada lelah, bukan marah. “Aku cuma ingin kamu ada,” katanya suatu malam. Bintang menghela napas panjang. “Kamu selalu memperbesar hal kecil,” jawabnya datar.

Mini Kidi--
Bulan terdiam. Ia belajar bahwa setiap percakapan yang seharusnya menjadi jembatan justru berubah menjadi dinding.
Dan setiap kali suasana rumah terasa berat, ponsel Bintang selalu berbunyi. Nama itu muncul dengan ringan di layar: Berlian.
“Gue lagi di luar, mau ketemu?” pesan singkat yang selalu datang di waktu yang tepat atau mungkin di waktu yang salah.
Bintang tidak pernah menganggapnya pelarian. Ia menyebutnya “butuh ruang”. Kepada Bulan, ia berkata, “Aku cuma keluar sebentar biar kepala dingin.” Namun kepala yang dingin itu selalu mengarah ke tempat yang sama.
Di sebuah kafe yang lampunya redup, Berlian mendengarkan tanpa menghakimi. Ia tertawa di bagian yang menurutnya lucu, mengangguk di bagian yang menurutnya berat. “Lo terlalu sabar sih,” kata Berlian suatu malam. “Kalau gue jadi lo, gue nggak bakal tahan.”
Kalimat-kalimat seperti itu terdengar seperti dukungan. Padahal perlahan, ia menjadi pembenaran.
Di rumah, Bulan menunggu dengan perasaan yang tak lagi bisa dijelaskan sebagai cemburu. Ini bukan tentang perempuan lain. Ini tentang suami yang selalu pergi setiap kali ada yang harus diselesaikan.
Suatu malam, ketika Bintang pulang lebih larut dari biasanya, Bulan bertanya pelan, “Kamu ke Berlian lagi?” Bintang terkejut, tapi tidak cukup untuk menyangkal lama. “Aku cuma butuh teman ngobrol,” katanya defensif.
Bulan menatapnya tanpa suara. “Kenapa setiap kali ada masalah dengan aku, kamu selalu memilih ngobrol dengan dia, bukan menyelesaikannya denganku?”
Pertanyaan itu menggantung.
Bintang tidak merasa bersalah. Dalam pikirannya, ia tidak berselingkuh. Ia tidak menyentuh batas yang jelas-jelas dilarang. Ia hanya berbagi cerita. Hanya mencari ketenangan. Hanya butuh dimengerti.
Sumber:




