Pengakuan yang Datang Terlambat: Ternyata Dia Ayahku (3)
-Ilustrasi-
HARI itu datang tanpa upacara. Tidak ada kamera, tidak ada saksi selain mereka bertiga. Di ruang yang dingin dan rapi, Bintang duduk berhadapan dengan Bulan. Anak itu duduk di samping ibunya, kakinya menggantung, matanya berpindah-pindah antara dua orang dewasa yang selama ini menjadi pusat pertanyaannya.
Bintang menandatangani berkas-berkas dengan tangan yang sedikit bergetar. “Saya mengakui,” katanya singkat, seperti mengucapkan kalimat yang sudah lama ia latih agar terdengar netral.

Mini Kidi--
Anak itu menatapnya lama, lalu bertanya pelan, “Kalau Ayah mengakui aku sekarang, apa yang berubah?” Pertanyaan itu membuat ruangan terasa lebih sempit.
Bintang terdiam. Ia mencari jawaban yang tidak menggurui, tidak berlebihan, tidak kosong. “Aku akan ada,” katanya akhirnya. Bulan menoleh, suaranya tenang tapi tegas, “Ada itu bukan datang sesekali. Ada itu memilih.”
Pengakuan itu mengubah status di atas kertas. Nama ayah kini tertulis rapi. Hak dan kewajiban mulai dibicarakan dengan bahasa yang tertib.
Namun di luar ruang itu, kehidupan menuntut lebih dari sekadar tanda tangan. Malamnya, di rumah, anak itu bertanya lagi, “Bu, sekarang aku punya Ayah?” Bulan memeluknya.
“Kamu punya nama Ayah,” jawabnya jujur. “Soal punya Ayah yang hadir, itu kita lihat dari pilihan-pilihannya nanti.”
Bintang mencoba. Ia datang lebih sering, menepati janji kecil, belajar mendengar tanpa membela diri.
Suatu sore, ia berkata pada anak itu, “Maaf karena Ayah terlambat.” Anak itu mengangguk, tidak marah, tidak pula lega. “Aku sudah besar,” katanya sederhana.
Kalimat itu memukul Bintang lebih keras dari apa pun yang pernah ia dengar. Ia sadar, ada bagian yang tidak bisa ia kejar, hanya bisa ia rawat dari titik ini ke depan.
Bulan menjaga jarak yang sehat. Ia tidak menghalangi, tidak pula mendorong berlebihan. “Yang paling penting,” katanya pada Bintang suatu hari, “jangan buat anak ini belajar menunggu lagi.”
Bintang mengangguk, kali ini tanpa alasan, tanpa penundaan. Ia tahu, pengakuan yang datang terlambat hanya bisa ditebus dengan konsistensi hari demi hari.
Cerita ini berakhir bukan dengan bahagia yang gemerlap, melainkan dengan kejujuran yang sederhana.
Sumber:
