Muktamar NU Ke-35, Profesor Nasar Tokoh Pemersatu

Muktamar NU Ke-35, Profesor Nasar Tokoh Pemersatu

Abdul Aziz saat bersama Prof. Nasaruddin Umar--

Oleh: ABD. AZIZ

Advokat, Legal Consultant, Mediator Non-Hakim, Columnist, dan CEO Firma Hukum PROGRESIF LAW. Kini, Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Gerakan Masyarakat Perangi Korupsi (DPP GMPK)

 

Konon, Ibu Kota menjanjikan seribu asa. Gedung pencakar langit menjamur, berdiri kokoh di sana-sini. Kala malam, lampu dengan ornamen apik kian menambah eksotiknya Jakarta. Seorang kolega berujar waktu di Menteng. "Bung AA, Jakarta ini miniatur negara dengan infrastruktur modern. Menawarkan pengalaman Kota besar yang dinamis dan memikat. Dari sinilah, rancang bangun Indonesia dilakukan," ungkapnya sambil meneguk kopi hitam. Diskusi soal elite politik yang jenaka bicara Kepala Daerah dipilih DPRD, mengalir begitu saja. Beberapa waktu kemudian, beralih pada tema tentang NU di masa depan. "Alhamdulilah, sekarang PBNU kembali bersatu. Informasinya, sebentar lagi Muktamar ke-35," tambahnya seraya bersyukur.

Mendengar ujaran itu, penulis menghela napas panjang. Sesekali menghisap jamu bakar di sela jari-jari. Tani Madjoe, Cigarskuie, Assikha Habbat’s, dan Assikha Gold. Keempatnya menyajikan aroma jinten, kapulaga, siwak, sirih, dan madu hutan, khas Nusantara. Begitu lekat di bibir. Rasanya, tak ada duanya. Sejenak memandang langit Jakarta, yang menyajikan perpaduan harmonis antara tradisi dan modernitas Kota Metropolitan terbesar di Asia Tenggara, itu. Namun, selang beberapa menit, seorang aktivis NU mengingatkan agenda santai bersama (hangout) tiga puluh menit lagi. Tak lama kemudian, perbincangan tentang kepemimpinan PBNU ke depan diakhiri, kemudian balik badan seratus delapan puh derajat.

BACA JUGA:Situbondo Siap Jadi Tuan Rumah Muktamar PBNU Ke-35


Mini Kidi--

Selanjutnya, beranjak ke arah Kramat Raya. Saat melewati Kantor PBNU sembilan lantai dengan cat tembok hijau, penulis bergumam pelan dalam hati. “Angka 9 pasti memiliki makna filosofis yang mendalam. Selain 9 bintang menyatu dengan lambang NU, juga menegaskan sebagai penerus perjuangan dan nilai-nilai Islam yang diusung oleh Wali Songo. Bukan sembarang angka sembilan. Ia menjadi simbol aspirasi untuk terus maju dan bertumbuh di setiap lantainya. Benar. Puncaknya, Syuriyah dan Mustasyar PBNU bertemu di Lirboyo, Kediri. Jika tidak, hampir saja Jalan Kramat, tak lagi “Kramat”. Selaras dengan Mbah Hasyim Asy'ari yang mendirikan NU untuk menjaga tradisi keislaman, mempertahankan mazhab, persatuan Islam, dan pembangunan peradaban.”  

Setelah bersua kolega yang sudah janjian itu, berbincang seputar islah-nya para elit PBNU di Pesantren yang diasuh Kiai Anwar Mansur pada Kamis, 25 Desember 2025, itu. "Amanatnya, Rais Aam Kiai Miftachul Akhyar dan Ketua Umum Gus Yahya Cholil Staquf gelar Muktamar bersama tahun dua ribu dua puluh enam, yang potensial menjadi akhir perdebatan kepemimpinan di PBNU," tandas sang aktivis itu. Siapa, ya tokoh yang pantas memimpin PBNU ke depan? “Sejatinya, sosok yang bersih dari rekam jejak tak elok dalam berbagai aspek," harap penulis yang diaminkan beberapa rekan. Meeting bersama kolega pun usai menjelang berakhirnya tahun 2025. Penulis kembali menjalankan tugas sebagai penegak hukum di Ibu Kota. 

Keesokan harinya, bergegas menuju kawasan Lapangan Banteng Barat. Untuk kedua kalinya, bersua dan berbincang dengan Menteri Agama, Profesor Nasaruddin Umar di DKI Jakarta pada ujung Desember 2025. Bersyukur, bisa mengakhiri tahun 2025 bersama anggota Kabinet Presiden Prabowo Subianto. Seperti biasa, walaupun menyandang jabatan prestisius, Menteri non Parpol ini begitu ramah dalam menerima tamu. Bahkan, terhadap penulis yang belum apa-apa karena memang bukan siapa-siapa. Abah Nasar, biasa penulis sapa, lekat dengan kepemimpinan yang moderat, progresif, dan visioner. Publik menjulukinya sebagai tokoh pemersatu lintas agama yang kuat. Bahkan, Imam Besar Masjid Istiqlal sejak 2016 lalu itu, dikenal ahli dalam mendamaikan perbedaan. 

BACA JUGA:Akhiri Konflik Internal PBNU, Muktamar NU Disepakati Secepatnya Digelar

Apakah tokoh non kader partai politik itu, tiba-tiba diminta Presiden Prabowo untuk duduk sebagai Menteri Agama? Tentu, tidak! Penulis yakin, tak ada kamus "tiba-tiba" bagi seorang Prabowo dalam menempatkan sosok berintegritas, seperti Profesor Nasar di Kementerian yang acapkali menorehkan sejarah kelam dari masa ke masa. Analisis penulis, Ketua Umum Partai Gerindra yang berkomitmen memberantas korupsi itu, hendak menepis adagium sebagian masyarakat, bahwa di Kementerian Agama "tak ada agama". Buktinya, korupsi dana abadi umat (1999-2003), korupsi dana penyelenggaraan ibadah haji (2010-2013), korupsi pengadaan barang dan jasa (2011), korupsi pengadaan al-Quran (2011-2013), korupsi jual-beli jabatan (2019), dan korupsi kuota haji (2024). 

Siapa sesungguhnya Profesor Nasaruddin Umar? Lahir di Ujung, Kabupaten Bone Sulawesi, 23 Juni 1959 dan menyelesaikan program Sarjana di IAIN Ujung Pandang. Program Magister-nya di tempuh di UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. Untuk program Doktoral-nya di Universitas McGill Montreal, Kanada dan Universitas Leiden, Belanda. Profesor Nasar, juga telah memperoleh pengakuan dan penghargaan dalam skala nasional, seperti berkontribusi pada menjadikan Indonesia sebagai teladan moderasi beragama tingkat dunia. Menginspirasi pengembangan pendidikan berbasis nilai moderat dan inklusif. Mampu mendorong inovasi di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri se-Indonesia, dan berhasil meningkatkan kepercayaan publik pada Kementerian Agama.

Apakah Profesor Nasaruddin Umar aktif dalam organisasi keagamaan? Merujuk pada SK NU, No.01/A.II.04/01/2022, Guru Besar Tafsir Al-Quran UIN Jakarta ini tercatat aktif sebagai Rais Syuriyah PBNU. Sebelumnya, menjabat Khatib Aam PBNU, dan Rais Syuriyah PWNU Sulawesi Selatan. Apa konfirmasinya? Tokoh moderasi agama dengan jaringan luas hingga internasional ini, memiliki pengalaman yang lebih dalam berkhidmad di NU. Melihat integritas pribadi yang diakui berbagai kalangan, juga dikenal sebagai intelektual muslim yang progresif dengan karakter kepemimpinan yang moderat dan toleran, layak untuk dijadikan sebagai tokoh pemersatu. Apalagi, ditopang keahliannya dalam diplomasi antar agama, dan berbagai penghargaan telah disandangnya. 

BACA JUGA:Gelar Muktamar dan Penyempurnaan Konstitusi PBNU: Sebuah Solusi Alternatif

Untuk itu, hemat penulis, seorang Profesor Nasar memunuhi kualifikasi yang tak diragukan, dan patut didukung dalam kontestasi kepemimpinan PBNU pada Muktamar ke-35 mendatang. Tak bisa dipungkiri, riuhnya PBNU dewasa ini, menggambambarkan potensi terjerembab-nya keagungan akhlak, yang membutuhkan hadirnya pemimpin yang tepat dan kuat. Menteri Agama yang dipercaya Presiden Prabowo Subianto ini, tak lama setelah memimpin Kementerian Agama, mendapatkan pengakuan luas sebagai figur yang berakhlak. Selain itu, dalam ajang Top Goverment Public Relation Award (2025), ia dinobatkan sebagai figur publik terbaik. Bersediakah Profesor Nasar dicalonkan sebagai Ketua Umum PBNU? Penulis tak mendengar jawaban pasti selama diskusi berlangsung. 

Sore itu, matahari mulai beranjak ke peraduannya. Kopi hitam yang tersuguh tanpa gula, juga tinggal satu tegukan. Sedang di hadapan Menteri, tak sedikit dokumen yang harus dikoreksi olehnya. Buru-buru, penulis memberi kode pada Sekjen GMPK, Mas Bakri untuk segera undur diri. "Abah Nasar, terima kasih sudah berkenan menerima dan berbincang santai. Maafkan atas khilaf yang terselip. Mohon izin, pamit undur diri," ucap penulis. Saat berjabat tangan, dalam hati bermunajat. "Ya Allah, semoga Engkau berkenan menggerakkan hati Profesor Nasar untuk berlaga pada Muktamar NU esok. Hanya pada Engkau hamba berharap. Hanya kepada-Mu hamba memohon yang terbaik untuk kepemimpinan PBNU selanjutnya." Selamat menyongsong Muktamar, Nahdliyin.

Sumber: