Tahun Baru, Hidup Baru: Langkah Pertama Tanpa Nama Belakangnya (1)
-Ilustrasi-
“AWAL baru bukan soal tanggal di kalender, tapi keputusan di dalam hati.”
Suara kembang api bersahut-sahutan di langit malam. Tahun baru telah datang. Di tengah hiruk pikuk pesta pergantian tahun, seorang perempuan berdiri sendiri di balkon apartemennya. Segelas teh hangat menggigil di tangannya, dan pandangannya kosong menembus kelap-kelip cahaya di kejauhan.

Mini Kidi--
Dialah Bulan, perempuan yang baru saja resmi menyandang status janda sejak dua minggu lalu. Perceraian yang ditandatangani di akhir Desember, menutup bab panjang pernikahannya dengan Bintang—pria yang pernah ia cintai habis-habisan selama lebih dari satu dekade.
Bukan keputusan yang mudah. Bahkan terlalu berat. Tapi luka yang dibiarkan terlalu lama, akhirnya harus dioperasi meski dengan air mata.
“Aku sudah mencoba bertahan,” gumam Bulan pada dirinya sendiri, “Tapi aku tidak bisa memperjuangkan rumah yang hanya dihuni oleh satu hati.”
Dulu, ia percaya pernikahan adalah tentang dua orang yang saling menjaga. Tapi Bintang lebih sering menjauh daripada mendekat. Kata-kata manis hanya tinggal kenangan. Komunikasi berubah menjadi tuntutan. Kasih sayang tergantikan kelelahan. Dan yang paling menyakitkan: perhatian Bintang lebih sering tertuju pada dunia di luar rumah urusan pekerjaan, teman-teman, bahkan skandal digital yang akhirnya jadi titik akhir mereka.
Pagi tahun baru datang dengan tenang. Untuk pertama kalinya dalam 12 tahun terakhir, Bulan bangun tanpa ucapan “Selamat Tahun Baru, Sayang.” Tak ada sarapan berdua, tak ada rencana liburan keluarga. Yang ada hanyalah dirinya sendiri dan anak semata wayangnya yang masih tertidur pulas.
Tapi pagi itu pula, Bulan menyalakan musik lembut dari playlist lamanya. Ia membuka laptop, mengetik sesuatu di kolom catatan digital:
Resolusi 2026:
1. Memaafkan diriku sendiri.
2. Tidak meminta maaf karena memilih bahagia.
3. Belajar menikmati sepi tanpa takut.
4. Memulai lagi, meski dari nol.
Sumber:
