Situbondo Catat Pertumbuhan Ekonomi Tertinggi di Sekarkijang, BI: Tumbuh 5,95 Persen

Situbondo Catat Pertumbuhan Ekonomi Tertinggi di Sekarkijang, BI: Tumbuh 5,95 Persen

Kepala BI Jember Gunawan, saat menyerahkan cendera mata kepada Bupati Yusuf Rio Wahyu Prayogo.--

SITUBONDO, MEMORANDUM.CO.ID – Kepala Bank Indonesia (BI) Cabang Jember, Gunawan, menyatakan Kabupaten Situbondo mencatatkan pertumbuhan ekonomi tertinggi di wilayah Sekarkijang, yakni Situbondo, Lumajang, Jember, Banyuwangi, dan Bondowoso pada Triwulan II 2025.

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Situbondo tumbuh sebesar 5,95 persen, melampaui daerah lain di kawasan tersebut.


Mini Kidi--

Gunawan menjelaskan, peningkatan ini terutama didorong oleh naiknya Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) yang berasal dari lonjakan investasi swasta serta realisasi belanja modal pemerintah.

“Sektor primer tumbuh didorong oleh musim panen raya padi, tebu, dan mangga, serta meningkatnya investasi di sektor perikanan,” kata Gunawan saat Rapat Koordinasi TP2ED dan TPID Kabupaten Situbondo, Rabu (15 Oktober 2025).

Meskipun harga bawang merah di Situbondo telah turun, nilainya masih relatif tinggi dibandingkan daerah lain di Jawa Timur. Pihaknya menekankan perlunya langkah strategis pemerintah daerah untuk menjaga kestabilan harga komoditas tersebut.

BACA JUGA:Ibu Rumah Tangga di Situbondo Gunakan dan Edarkan Sabu

“Pertumbuhan ekonomi Situbondo mulai membaik, meski masih tertahan oleh moderasi konsumsi rumah tangga dan konsumsi pemerintah,” ujarnya.

Bupati Situbondo, Yusuf Rio Wahyu Prayogo, menyebut capaian pertumbuhan ekonomi ini merupakan hasil kerja sama lintas sektor dalam menjaga stabilitas harga dan meningkatkan produktivitas daerah.

“Pertama kali saya jadi bupati, Pak Gunawan bilang kalau ada sesuatu yang mencurigakan, langsung bikin pasar murah. Itu cara cepat untuk menjaga harga,” kata Mas Rio, sapaan akrab Bupati Situbondo.

BACA JUGA:RSUD Besuki Situbondo Gelar Tes Urine Pegawai, Pastikan Tenaga Kesehatan Bebas Narkoba

Mas Rio juga menekankan pentingnya kesadaran konsumsi masyarakat dalam mengendalikan inflasi.

“Kalau tidak mau pasar murah, ya kurangi makan cabai. Konsumsinya yang dikurangi,” ujarnya.

Lebih lanjut, Mas Rio menargetkan pertumbuhan ekonomi Situbondo dapat mencapai 8 persen tahun ini. Ia mengakui target tersebut ambisius, namun optimistis bisa dicapai melalui penguatan sektor produktif.

BACA JUGA:RSUD Besuki Situbondo Gelar Tes Urine Pegawai, Pastikan Tenaga Kesehatan Bebas Narkoba

“Kalau Indonesia saja 5,6 persen sudah luar biasa, berarti kita harus kerja lebih keras. Saya yakin dengan perhitungan yang matang, 8 persen itu bisa tercapai,” ucapnya.

Sementara itu, Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB), Muhammad Firdaus, menilai Situbondo sebagai salah satu daerah non-IHK yang menunjukkan pertumbuhan ekonomi tinggi dengan basis utama sektor pertanian dan komoditas primer.

“Kabupaten Situbondo dicirikan oleh ekonomi yang sedang bertumbuh dengan dominasi komoditas primer. Itu tanda daerahnya dinamis,” kata Firdaus.

BACA JUGA:Ngaji Literasi dan Lomba Mading Meriahkan Festival Literasi Situbondo 2025

Firdaus menegaskan pentingnya pengendalian inflasi daerah melalui strategi nasional 4K: ketersediaan pasokan, keterjangkauan harga, kelancaran distribusi, dan komunikasi yang efektif.

“Kalau Situbondo punya data jelas mana komoditas surplus dan defisit, maka bisa dilakukan kerja sama antar daerah untuk menyeimbangkan pasokan. Itulah komunikasi yang efektif,” jelasnya.

Ia juga menambahkan bahwa inflasi di Indonesia sangat dipengaruhi oleh harga pangan bergejolak seperti beras, cabai, bawang merah, telur, dan daging ayam.

BACA JUGA:Dinkes Situbondo Alokasikan Rp39,4 Miliar DBHCHT untuk Program Kesehatan Berantas

“Kebijakan pangan dan inflasi harus berjalan beriringan untuk menjaga daya beli masyarakat,” tegasnya.

Berdasarkan data Bank Indonesia, pertumbuhan ekonomi Kabupaten Situbondo pada Triwulan II 2025 menjadi yang tertinggi di wilayah Sekarkijang dengan PDRB tumbuh sebesar 5,95 persen, melampaui Banyuwangi (5,58 persen), Jember (5,36 persen), Bondowoso (5,06 persen), dan Lumajang (4,48 persen).

Sumber: