iklan ucapan polri-2
pupuk
iklan ulta memorandum

Ketika Ketua NU Menyeberang Pagar

Ketika Ketua NU Menyeberang Pagar

-Ilustrasi-

BACA JUGA:Ketika Paru-Paru Bumi Mulai Sesak

Berdiri di hadapan jemaah Muhammadiyah membawakan tema tentang merawat Indonesia dan menjaga agama dari ancaman radikalisme, ia mengingatkan kita pada intisari ajaran para pendiri bangsa: bahwa perbedaan dalam cabang ibadah dan cara pandang tidak pernah diciptakan untuk saling membinasakan, melainkan untuk menguji seberapa luas dada kita menampung kasih sayang.

Bagi orang kebanyakan mereka di akar rumput yang sering lelah melihat para elite berebut benar di panggung-panggung retorika pemandangan yang segera hadir itu adalah air penyejuk yang lama dinanti.

NU dan Muhammadiyah tidak lagi berjalan saling memunggungi.

Mereka duduk dalam satu majelis, mendengar dengan takzim, menertawakan hal-hal kecil yang selama ini dipertengkarkan oleh mereka yang kurang piknik.

BACA JUGA:Air Mata di SPBU

Sebab, jika kita mau menengok lebih jauh ke dalam lembaran sosiologi masyarakat kita, perjumpaan ini bukan sekadar silaturahim seremonial.

Ia adalah sebuah jawaban atas kerinduan kultural yang sudah lama mengendap di bumi Tapal Kuda. 

Di tanah yang santun dengan budaya sopo aruh-nya, masyarakat kita mendambakan harmoni.

BACA JUGA:Surat untuk Ibu

Ketika seorang pemimpin NU datang dengan kerendahan hati ke forum Muhammadiyah, sesungguhnya ia sedang mengirimkan pesan sunyi namun benderang: bahwa di atas segala perbedaan ijtihad, ada kemaslahatan umat dan masa depan bangsa yang jauh lebih agung untuk dijaga bersama.

Persatuan, memang tidak pernah lahir dari keseragaman yang dipaksakan. Ia lahir dari kelapangan dada untuk saling mendengarkan dan mengerti.

BACA JUGA: Gempita Horeg: Pesta Rakyat atau Derita Warga

Di bawah langit Bondowoso yang tenang, fajar kecil itu kini menyingsing, membisikkan satu kebenaran sederhana yang sering telat kita sadari: bahwa tembok setinggi dua dekade sekalipun pasti akan runtuh di hadapan tangan-tangan yang ikhlas merajut sapa. 

Dan di sanalah, masa depan umat beragama di negeri ini menemukan kembali degup jantungnya yang paling jujur. (*)

Sumber: