Kalah Bersaing, Kok Merusak?
--
Awalnya, kita mengangguk. Tatkala melihat kerumunan berpeci dan bersarung—yang dengan gagah mengatasnamakan aliansi masyarakat dan ulama setempat—datang membawa alat berat untuk merobohkan sebuah minimarket di Pamekasan, ada rasa bangga yang menyelinap.
Pikir kita sederhana: ini cara yang ksatria untuk membela tetangga, menyelamatkan warung-warung kecil dari serbuan modal besar. Minimarket itu dipersoalkan karena dinilai tidak mendapat restu dari ulama setempat.
BACA JUGA:Ketika Sabda Guru Mengalahkan Nabi
Tapi kebanggaan itu rapuh. Ia runtuh jauh lebih cepat daripada dinding yang diratakan buldoser.
Sebab ketika debu perlahan jatuh dan malam kembali sunyi, yang tertinggal hanyalah sisa-sisa rasa miris.
Kita kerap lupa cara bercermin. Siapa yang tak kenal Toko Madura? Warung-warung kelontong milik saudara-saudara kita yang saban hari setia menjaga pelita di sudut-sudut Jakarta, Bandung, hingga pelosok Nusantara, membuka pintu 24 jam demi mengais rezeki.
BACA JUGA:Data Manis, Bondowoso Menangis

Mini kidi--
Bayangkan jika warga di tanah perantauan itu merasa terganggu oleh kesuksesan warung-warung tersebut, lalu mendatangkan traktor untuk meratakannya demi melindungi warung lokal mereka. Kita pasti akan menangis, berteriak murka, dan menyebutnya sebagai biadab yang merenggut kemanusiaan.
Lalu, di mana letak keadilannya ketika angin kebinasaan itu justru kita tiupkan di tanah kelahiran sendiri? Tanah tempat minimarket itu berdiri dibeli dari tetesan keringat yang jujur. Usahanya sah di mata hukum. Mengapa saudara kita berhak merantau dan mencari penghidupan dengan damai di negeri orang, tetapi diusir serta dihancurkan di tanah airnya sendiri hanya karena cara berniaganya sedikit berbeda?
BACA JUGA:Ketika Paru-Paru Bumi Mulai Sesak
Yang paling menyayat hati adalah terseretnya martabat ulama ke dalam kubangan debu ini. Sejak kapan izin bangunan harus tunduk pada deru buldoser? Minimarket itu tidak menjual barang haram. Dengan hak apa sekelompok orang yang berlindung di balik topeng aliansi moral ikut campur memadamkan dapur rezeki orang lain?
Para ulama mungkin tidak pernah memerintahkan api anarki untuk membakar. Namun, diamnya mereka—terlebih ketika nama besar dan jubah kesucian itu dicatut begitu saja untuk merestui sebuah kebrutalan—adalah sebuah sunyi yang melukai keadilan. Kiai semestinya menjadi embun penyejuk di padang yang gersang, bukan memilih membisu di atas reruntuhan harta sesama manusia.
BACA JUGA: Gempita Horeg: Pesta Rakyat atau Derita Warga
Sumber:









