Tawuran

Tawuran

Fatkhul Aziz--

TAWURAN dan gangsterisme, dua fenomena bagaikan penyakit kronis dalam masyarakat seringkali dikaitkan dengan aksi mencari eksistensi.

Para remaja, terjebak dalam belenggu pencarian jati diri, terjerumus dalam tindakan destruktif demi mendapatkan pengakuan.

Teori Erich Fromm tentang akar kekerasan memberikan lensa untuk memahami fenomena ini. Fromm mengemukakan, bahwa manusia memiliki kebutuhan bawaan untuk diakui dan dihargai.

Kebutuhan ini, jika tidak terpenuhi dapat memicu rasa frustrasi dan agresivitas.

Di sinilah tawuran dan gangsterisme menemukan tempatnya.

Lembaga pendidikan, rumah, dan ruang publik, seringkali gagal menyediakan ruang bagi para remaja untuk menunjukkan bakat, potensi, dan mendapatkan pengakuan.

Ruang pamer dan apresiasi menjadi langka.

Akibatnya, para remaja ini membentuk kelompok, mencari identitas dan pengakuan dalam komunitas mereka.

Tawuran dan gangsterisme menjadi cara mereka untuk “flexing”, menunjukkan kekuatan, dan berebut dominasi.

Jalanan menjadi arena ekspresi, meskipun destruktif dan berbahaya.

Solusinya terletak pada penyediaan ruang ekspresi yang positif dan konstruktif. Sekolah perlu memfasilitasi bakat dan minat siswa, bukan hanya fokus pada akademis.

Rumah harus menjadi tempat yang aman dan suportif, dimana remaja merasa dihargai dan didengarkan.

Ruang publik kota pun harus didesain dengan mempertimbangkan kebutuhan remaja.

Fasilitas olahraga, seni, dan budaya dapat menjadi wadah yang aksesibilitasnya terbuka bagi mereka untuk menyalurkan energi dan kreatifitas.

Memberikan ruang pamer dan apresiasi bukan berarti mentoleransi tindakan anarkistis. Penegakan hukum tetap diperlukan untuk mencegah tawuran dan gangsterisme.

Namun, solusi jangka panjang terletak pada penciptaan lingkungan yang mendukung perkembangan remaja yang sehat dan positif.

Tawuran dan gangsterisme adalah alarm bagi kita semua. Ini adalah tanda bahwa ada yang salah dalam sistem sosial kita.

Kita perlu menyediakan ruang ekspresi yang positif bagi para remaja, agar mereka tidak perlu mencari pengakuan dengan cara yang destruktif.

Mari kita ciptakan masyarakat yang ramah bagi remaja, di mana mereka dapat berkembang dan diakui tanpa harus resorting to violence. (*)

 

Sumber: