Beras

Beras

Agus Supriyadi--

Dalam sejarah, beras bukan satu-satunya makanan utama yang dikonsumsi masyarakat Indonesia, ada jagung, ubi, ketela, dan sagu.

Beras jadi simbol kemakmuran, karena mengonsumsi makanan seperti tiwul, ketela, jagung, sagu, dan ubi dianggap kaum miskin.

Pemerintah di masa itu menjadikan beras sebagai barang komoditi politik dan membagikannya sebagai beras raskin.

Kini, beras kembali mencatatkan sejarah. Kenaikan harga beras yang terjadi sebelum Pilpres hingga hari-hari belakangan ini merupakan yang tertinggi dalam sejarah.

Seperti halnya tim kampanye Capres (yang tertinggal di hitung cepat) yang sibuk mengumpulkan data dan bukti kecurangan pilpres, pemerintah juga sibuk membuat alasan, atau bahkan menyalahkan pihak yang jadi biang kerok kenaikan harga beras ini.

Presiden Joko Widodo menyebutkan perubahan iklim dan cuaca menyebabkan terjadinya gagal panen sehingga menjadi penyebab harga beras naik di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

 

Menteri Perdagangan (Mendag) Zulkifli Hasan memperkuat pernyataan Jokowi. Menurut Mendag, kenaikan harga beras terjadi karena faktor pasokan dan permintaan (supply-demand). Ditambah, Indonesia juga mengalami kondisi El Nino, sehingga membuat masa tanam dan panen menjadi mundur.

 

Kenaikan harga beras ini tentu saja berimbas kepada masyarakat, terutama emak-emak. Mereka harus putar otak agar bisa tetap menyajikan makanan di atas meja makan.

Para pelaku UMKM juga merasakan dampaknya. Kenaikan harga beras membuat mereka memutar otak agar konsumen tidak kabur.

 

Sampai-sampai, pembuat lontong di Surabaya menurunkan ukurannya. Lontong jadi makin pendek. Lalu, sampai kapan harga beras kembali seperti yang dulu? Pemilu sudah berlalu! Apalagi, bulan Puasa sudah menunggu!

Tak ada kepastian, pengambil kebijakan, masih sibuk mencari alasan. Atau kita memang harus mulai belajar puasa beras. Lalu kembali ke makanan utama seperti zaman sebelum merdeka dulu, ada tiwul, ketela, jagung, sagu, dan ubi.

Bagaimana? (*)

 

 

Sumber: