Langit Hitam Majapahit – Menuju Kotaraja (2)

Langit Hitam Majapahit – Menuju Kotaraja (2)

Prana Sampar segera melesat cepat serta mengayunkan sebilah keris ke arah penyelamat jasad Wiratama itu. Bondan tidak merasa ada masalah atau kepentingan terhadap perkelahian ini maka ia memutuskan untuk menghindar dan hanya mengimbangi serangan lawannya. Prana Sampar semakin marah dengan cara Bondan meladeni gerakannya. Ia merasa telah diremehkan karena dalam diri Prana Sampar  telah terpatri  bahwa ia adalah anak muda yang mempunyai kelebihan dibandingkan dengan yang seusianya. Selain itu Ia juga merupakan murid dari seorang yang pilih tanding di lereng Gunung Wilis. “Gandrik! Jangan bertingkah seperti kambing yang sedang bermain-main. Agar aku tak menyesal telah membunuhmu maka bertarunglah seperti laki-laki!”  Prana Sampar dengan geram menebaskan keris ke lambung Bondan. Bondan tidak menyahut.  Ia sadar sepenuhnya bahwa orang yang sedang menyerangnya ini benar-benar ingin menghabisi dirinya. Dan jika melihat luka di dada Wiratama maka jelas terlihat kekuatan sesungguhnya dari penyerangnya ini. Namun begitu Bondan belum memutuskan untuk melawan atau segera melepaskan diri dari perkelahian. Meski akhirnya, untuk sementara ini, ia ingin menjajaki kemampuan bertarung dari pembunuh Wiratama ini. Bodan tidak dapat melawan rasa ingin tahunya yang cukup besar. Ia tampak ingin bermain-main dengan bahaya yang ada pada sosok yang bernama Prana Sampar. Ketika itu, Bondan yang sudah menduga arah serangan lantas menggeser  tubuh. Prana Sampar sedikit terkejut dengan kecepatan Bondan namun hal itu semakin menjadikan dirinya murka. Prana Sampar dengan cepat meningkatkan lapis kemampuannya. Ia mengerahkan hampir seluruh kemampuannya untuk menerjang Bondan. Keris Sampar tiba-tiba seperti datang dari segala arah serta memiliki mata pada bagian lancipnya dan memburu Bondan yang berloncatan lincah menghindari serangan. Tetapi arus serangan Prana Sampar semakin deras dan kuat, maka dengan terpaksa Bondan memutuskan untuk meladeni serangan Prana Sampar.  Murid Resi Gajahyana ini tidak mempunyai pilihan untuk menjaga agar dirinya tidak tersayat dengan keris yang mematuk seperti ular liar yang ganas Suara letupan kecil terngiang di telinga Sampar. Terkejut dengan serangan balik dari Bondan menjadikan Prana Sampar nyaris kehilangan ketenangan. Rasa kaget yang luar biasa akibat kekuatan yang keluar dari letupan ikat kepala menjadikan Sampar gelap mata. Ia merasa malu pada dirinya sendiri yang telah meremehkan kemampuan lelaki muda yang tidak dikenalnya itu. Kini semakin besar hasrat Prana Sampar untuk menghabisi Bondan. Sebaliknya ketenangan justru lebih besar ada dalam diri Bondan ketika menghindari serangannya. Murid Resi Gajahyana ini benar-benar mampu menempatkan diri dalam benturan pertamanya semenjak meninggalkan Pajang. Ia dapat membaca tata berkelahi Prana Sampar, bahkan Bondan mampu membuat perkiraan tentang gerakan susulan yang akan dilancarkan oleh lawannya Caci maki dan kata-kata kesar kerap terlontar dari mulut Prana Sampar. Sangat berisik, begitu yang dipikirkan oleh anak muda dari Pajang yang menjadi lawannya. Tetapi kesabaran Resi Gajahyana dan kehidupan padepokan, tanpa disadari oleh Bondan, memberi dampak yang luar biasa bagi pengendalian dirinya. Bondan tidak mudah terpancing oleh setiap ulah yang dilakukan Prana Sampar. Sampar memutar tubuh serta menggetarkan keris seperti angin puyuh. Pada saat itu Bondan merasakan dorongan angin yang begitu kuat dari putaran keris Sampar. “Tidak mungkin selamanya dapat menghadapi orang ini dengan menghindar!" ia berkata pada dirinya sendiri. Maka Bondan cepat menggeleparkan ikat kepalanya. Ia mulai menangkis dan sesekali membalas dengan kibasan udengnya. Sedikit merendahkan tubuh untuk menghindari terjangan keris Sampar, Bondan segera membalikkan tubuhnya dengan melecutkan udengnya mematuk dada Sampar.. Menyadari perubahan itu, Sampar menekuk tubuhnya ke belakang. Bagian atas yang terbuka segera dimanfaatkan Bondan untuk melancarkan tendangan dengan tangan sebagai tumpuan. Terdengar benturan keras ketika Prana Sampar masih mampu menolak tendangan Bondan. Karena pada awalnya Bondan merasa tidak ada masalah dengan lawannya itu, ia mulai memikirkan cara untuk melepaskan diri dari serangan Sampar. ”Ki Sanak, siapapun dirimu, aku sama sekali tidak bermaksud mencampuri urusanmu. Aku hanya pengelana yang akan pergi ke kotaraja,” kata Bondan sambil meningkatkan serangan dengan ikat kepalanya disertai dengan pukulan yang bertubi-tubi yang datang seperti gulungan ombak di lautan. Bondan memutuskan untuk membalas serangan sambil menimbang kemungkinan untuk melepaskan diri dari Prana Sampar. Getar serangan anak muda dari kota Pajang ini akhirnya mendorong Sampar melompat surut beberapa langkah. Gelombang serangan yang datang bertubi-tubi telah dirasakan olehnya sebagai awal dari perkelahian yang sengit. Aku harus mempersiapkan diri, pikir Prana Sampar. Di luar dugaan, Bondan meloncat surut, menjauhi lingkar perkelahian. “Baiklah, terima kasih Ki Sanak! Semoga engkau mendapat ketenangan,” seru Bondan sambil meninggalkan perkelahian, melompati rerimbun semak lalu berlari cepat menuju Trowulan. ”Sipat keketan! Anak ingusan sepertimu telah mencampuri urusan orang dan sekarang kabur dari perkelahian? Berhenti!” Sampar mencoba mengejar namun kini ia telah menyadari bahwa anak muda yang dikejarnya bukan pemuda biasa. Prana Sampar yang bernafsu untuk membunuh Bondan pun tiba-tiba disergap keraguan.Meski begitu, ia mempunyai pikiran buruk apabila Bondan menjadi sumber berita tentang tersiarnya kabar pembunuhan Wiratama. Tidak mudah mengalahkannya tetapi ia harus dihentikan dengan segala cara! Tekad Prana Sampar menggumpal di hatinya. Ia tidak membatalkan niat, tangannya berkelebat cepat melontarkan beberapa paku besi yang kemudian meluncur deras di belakang punggung Bondan. Tetapi murid Resi Gajahyana ini hampir menghilang dari pandangan mata. Dalam waktu singkat, pemuda ini telah menjauh dari tatap mata pemburunya sekalipun Sampar telah mengerahkan tenaganya untuk mengejar Bondan. Kehilangan buruan menjadi sebab bagi Sampar untuk merasa semakin gusar di penghujung hari. Berulang-ulang ia menendang kerikil dan ranting yang melintang di jalan. Ia memutuskan untuk mengasingkan diri di satu tempat yang jauh dari jangkauan prajurit Majapahit. (bersambung) [penci_related_posts dis_pview="no" dis_pdate="no" title="Baca Juga" background="" border="" thumbright="no" number="8" style="list" align="left" withids="112712, 112894, 113534, 113738, 114210, 114613, 114659" displayby="recent_posts" orderby="title"]    

Sumber: