Peran Pers di Era Digital, Antara Tantangan dan Peluang

Pakar Komunikasi Dr. Suko Widodo, Drs., M.Si.,--
Menurutnya, ketidakseriusan negara dalam mengatur regulasi pers telah menyebabkan pers saling 'bunuh-bunuhan' satu sama lain.
BACA JUGA:Puncak HPN 2024, Pj Bupati Jombang Raih PWI Award
"Jadi pers itu bisa hancur dalam kata kutip akibat dari ketidakseriusan negara mengatur regulasi pers. Sehingga saling bunuh-bunuhan antara media satu dan media yang lain, " cakapnya.
Suko Widodo juga menyoroti masalah krusial yang dihadapi oleh industri media mainstream di Indonesia, yaitu ancaman penutupan dan kebangkrutan. Menurut beliau, penataan ulang sistem pers di Indonesia menjadi suatu keniscayaan.
"Menurut saya tata ulang terhadap penataan sistem pers kita sangat penting," tambahnya.
Suko menekankan pentingnya standar yang jelas bagi media pers. Beliau mencontohkan di Inggris yang memasukkan pers ke dalam ranah departemen perdagangan, sehingga aspek komersialnya menjadi jelas.
"Kalau di Inggris, misalnya pers masuk di dalam malah departemen perdagangan, ya. Masuk komersial itu, " katanya.
Di Indonesia, lanjut Suko, banyak pers yang didirikan oleh pihak yang tidak memiliki kapabilitas, bahkan oleh lembaga pemerintah, kepolisian, dan NGO. Hal ini menyebabkan pers menjadi tidak profesional dan berpotensi menimbulkan masalah.
BACA JUGA:HPN 2024, Ketua KONI Jatim Terima Penghargaan Sport Achievement Award
"Nah, di situ harus jelas. kan kita tahu bahwa pers, banyak pers yang diciptakan oleh orang-orang yang tidak memiliki kapabilitas. Ya, maaf ya, ada lembaga pemerintah kadang bikin, bahkan, mohon maaf, polisi juga memanfaatkan pers, NGO, sebagainya.
Jadi, harus ada standar terhadap jurnalisme kita. Kita harus tegas. Kalau tidak terus akan saling bunuh-bunuhan dan liar seperti sekarang ini, " tuturnya.
Menurutnya media pers harus mampu beradaptasi dengan teknologi, termasuk media sosial. Namun, adaptasi yang dilakukan terkadang justru kontraproduktif, seperti penggunaan clickbait yang merusak kualitas jurnalisme itu sendiri
BACA JUGA:Jalan Santai HPN PWI Jawa Timur di Jember Berlangsung Meriah
"Saya kira kalau media sosial masih bisa diadaptasi. Jadi, pers harus beradaptasi pada teknologi itu sudah dilakukan. Tapi, seberapa kuat mereka beradaptasi, bahkan adaptasinya kadang-kadang membuat clickbait itu kan menghancurkan dirinya sendiri, " ungkapnya.
Sumber: