Inspirasi Aroma Kopi dari Surabaya ke Dunia
Kapal Api--
Aroma kopi di pagi hari jadi bau khas di setiap rumah negeri ini. Bayangkan saja, dari sekian banyak, terutama yang menyeruput kopi sachet, besar kemungkinan itu buatan Soedomo Mergonoto.
Namun, jangan bayangkan Soedomo sebagai pengusaha glamour yang sibuk di lantai dansa investor. Ia lebih mirip pekerja pabrik yang tidak bisa diam.
Kisah sukses bos Kapal Api bukan cerita instan. Berawal dari gang sempit di Surabaya Utara, dari tangan ayahnya yang meracik biji kopi dengan cara kuno — disangrai di wajan besar, dikemasi seadanya, dijual ke pasar tradisional.
Nama “Kapal Api” bukan kebetulan. Kapal adalah lambang keberanian berlayar jauh, api adalah semangat yang tak padam. Dua simbol itu menempel kuat di keluarga Mergonoto.
Soedomo masuk ke bisnis keluarga ketika kopi belum keren seperti sekarang. Ia tidak hanya menjual rasa, tapi juga keyakinan. Bahwa kopi Indonesia bisa berdiri sejajar dengan kopi luar. Bahwa warung di pinggir jalan pun bisa punya rasa “global class.”
Tahun 1970-an, ia mulai bergerak cepat. Mesin roasting didatangkan. Kemasan dibuat menarik. Iklan muncul di televisi. Dan—yang paling penting—kopi dikemas dalam sachet. Praktis, murah, bisa dijangkau siapa saja.

Owner Kapal Api Soedomo Mergonoto (paling kanan) dalam sebuah acara.--
Soedomo bukan tipe pengusaha yang puas pada satu sukses. Setelah Kapal Api menancap kuat, ia mendirikan Excelso, kafe berkelas untuk kalangan menengah atas. Dari kopi rakyat, naik ke kopi elegan. Strategi ini tak banyak pengusaha berani lakukan.
Lalu bisnisnya melebar ke mana-mana: makanan ringan, properti, logistik, hingga digital venture. Semua masih dengan napas yang sama: kerja keras dan konsistensi.
Kapal Api kini jadi grup besar. Karyawan ribuan. Pabriknya di berbagai kota. Pasarnya menembus Asia, Eropa, hingga Amerika. Tapi kalau bicara dengan Soedomo, nadanya tetap pelan. Rendah hati. Kadang diselipi tawa pendek khas orang Jawa Timur.
Ia sering bilang: “Bisnis yang baik itu seperti kopi. Harus pahit dulu, baru terasa nikmat.”
Dan memang begitu hidupnya. Dari wajan tua di Surabaya, aromanya kini terbang ke seluruh dunia. Tapi bagi Soedomo Mergonoto, aroma paling harum tetap satu: rasa bangga melihat kopi Indonesia diseduh orang luar negeri.
Tentu saja itu diiringi dengan attitude. Di setiap kesempatan bercengkerama, Soedomo kerap mengingatkan untuk selalu hati-hati ketika berbicara. Sebab, kendati yang ngomong tidak bermaksud apa-apa, yang mendengarkan justru tersinggung.
Hal ini yang kerap terjadi di era post-truth dan periode sejarah yang oleh penulis India Pankaj Mishra sebut sebagai age of anger (zaman kemarahan) seperti sekarang. Yang benar bisa salah, yang salah bisa benar. Belum pula kalau dikait-kaitkan dengan preferensi politik dan SARA. Bisa makin runyam urusannya. (*/iku)
Sumber:

