Daging dari Luar Daerah Merajalela, Pedagang Daging PCN Protes ke Dinas Peternakan
Sejumlah pedagang mendatangi dinas kesehatan--
JOMBANG, MEMORANDUM.DISWAY.ID - Sejumlah pedagang Pasar Legi mendatangi kantor Dinas Peternakan Kabupaten Jombang. Mereka memprotes maraknya peredaran daging sapi dari luar daerah yang dinilai merugikan pedagang lokal.
Aksi itu dipicu keluhan yang sudah lama dirasakan pedagang. Salah satunya disampaikan Ulfa, 51, pedagang daging di Pasar Legi.

Kidi--

Mini Kidi--
Menurut dia, daging yang didatangkan dari luar kota, terutama Krian, sudah beredar sekitar dua tahun terakhir.
“Awalnya cuma satu orang pakai motor. Sekarang sudah tiga orang, bahkan pakai mobil pick-up. Bisa dibayangkan berapa ekor sapi yang diangkut,” ujarnya dengan nada kesal. Rabu, 18 Februari 2026.
Ulfa menuturkan, para pendatang tersebut merupakan pedagang skala jagal (grosir) yang langsung menjual daging ke tingkat eceran. Praktik itu, lanjut dia, menciptakan persaingan harga yang tidak sehat.
“Kami ambil dari juragan dengan harga patokan Rp 100 ribu per kilogram. Mereka berani jual di bawah itu. Kami sebagai pengecer jelas kalah. Harus menunggu dagangan mereka habis dulu, baru kami laku,” keluhnya.
BACA JUGA:Jelang Ramadan, Harga Daging Sapi Sekilo Rp120 Ribu
Hal senada diungkapkan Ira, 43, pedagang lainnya. Ia mengaku, kondisi tersebut berdampak langsung pada pendapatan. Jika sebelumnya mampu menjual hingga 45 kilogram per hari, kini angka itu sulit tercapai.
“Pendapatan turun drastis. Utang ke juragan malah nambah karena dagangan sering tidak habis,” katanya.
Para pedagang meminta Disnak segera turun tangan. Mereka berharap ada penertiban peredaran daging dari luar Rumah Potong Hewan (RPH) Jombang. Tujuannya, agar seluruh pedagang bisa bersaing dengan harga yang lebih adil.
“Kami tidak melarang orang berjualan. Tapi harus ada aturan yang jelas. Jangan sampai pedagang lokal terus dirugikan,” tegasnya.
Sumber:



