Cuaca Ekstrem Terjang Jember, Petani Cabai Dibayangi Kerugian
Samsul Arifin, kala rawat tanaman cabainya --
JEMBER, MEMORANDUM.DISWAY.ID – Cuaca ekstrem dengan intensitas hujan tinggi yang mengguyur Kabupaten Jember dalam beberapa pekan terakhir mulai memukul sektor pertanian. Tak hanya merusak kualitas tanaman, kondisi ini memaksa harga cabai di tingkat petani merosot tajam.
Di Desa Tegalwaru, Kecamatan Mayang, para petani cabai kini dihantui ancaman kerugian besar. Meski harga di pasaran saat ini masih bertahan di kisaran Rp30.000 hingga Rp35.000 per kilogram, angka tersebut merosot hampir separuh dibandingkan periode panen sebelumnya.
BACA JUGA:Inflasi Jawa Timur 2025 Capai 2,93 Persen, Harga Emas hingga Cabai Jadi Pemicu

Mini Kidi--
Samsul Arifin, salah satu petani setempat, mengungkapkan bahwa mayoritas warga Tegalwaru menggantungkan hidup pada tanaman palawija yang sangat rentan terhadap perubahan cuaca, seperti cabai dan kacang-kacangan.
“Curah hujan tinggi ini dampaknya luar biasa. Banyak tanaman yang mengalami busuk batang, bahkan ada yang rebah karena tanah terlalu jenuh air. Otomatis, hasil panen menurun drastis,” keluh Samsul saat ditemui di lahannya, Minggu 1 Februari 2026.
BACA JUGA:Antisipasi Lonjakan Harga Akhir Tahun, Pemkot Surabaya Ajak Warga Budidaya Cabai dan Bawang
Samsul menjelaskan, meski sistem irigasi di wilayahnya tergolong memadai, debit air hujan yang berlebihan justru menciptakan masalah baru. Selain merusak fisik tanaman, cuaca ekstrem juga memicu ledakan hama dan penyakit, seperti bercak daun dan bercak buah.
Kondisi ini memaksa petani mengeluarkan biaya ekstra untuk perawatan di tengah risiko kegagalan panen. "Baru gerimis saja pekerjaan sering terhenti. Ini membuat biaya operasional membengkak karena waktu pengerjaan jadi lebih lama dan perawatan harus lebih intensif," tambahnya.
BACA JUGA:Polsek Warujayeng Dukung Penanaman Cabai di Lahan P2B Desa Getas
Penurunan pendapatan sangat dirasakan Samsul jika dibandingkan dengan panen pertama. Kala itu, harga cabai sempat menyentuh angka Rp63.000 per kilogram.
“Kalau dibilang untung, ya masih ada tipis-tipis. Tapi jika dibandingkan panen lalu, perbandingannya jauh sekali. Kualitas buah sekarang juga jauh berbeda (menurun),” kata pria yang akrab disapa Samsul ini.
Di tengah peliknya masalah cuaca, Samsul sedikit bernapas lega terkait distribusi pupuk. Menurutnya, pada tahun 2026 ini, akses pupuk bagi petani yang terdaftar dalam Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) relatif lebih stabil.
BACA JUGA:Stabilkan Harga Cabai, DKPP Lumajang Bentuk Cluster Pertanian di Lima Kecamatan
Sumber:
