Polisi Selidiki Penipuan Alkes, Modus Pre-Order Perdayai Korban

Polisi Selidiki Penipuan Alkes, Modus Pre-Order Perdayai Korban

Dwi menunjukan foto Titah, pelaku penipuan investasi bodong.--

Awalnya, pada tahun 2021 dia setor ke Titah uang sebesar Rp70 juta lewat transfer, dua minggu kemudian itu balik dengan keuntungan sebesar 20 persen. 

Tapi selang beberapa jam, uang beserta keuntungannya itu diminta lagi. Bahkan dengan nominal lebih besar. Alasannya uang Dwi akan diputarkan lagi.

"Dia bawa-bawa instansi besar. Jadi itu modusnya biar korbannya tergiur untuk setor lagi. Lama-lama menggunung. Sampai nominalnya itu Rp1,8 miliar," lanjutnya.

Puncaknya pada tahun 2022, uang Dwi yang masuk ke Titah adalah Rp1,8 miliar. Dua minggu seperti janji awal terlapor itu tidak terealisasi. Dwi kemudian menagih modal dan keuntungannya.

"Itu alasannya dia ditipu lah. Tapi waktu aku minta surat perjanjian PO (pre-order) ke rumah sakit itu dia gabisa nunjukin," ungkapnya.

BACA JUGA:Pasca Dirusak dan Dijarah, Masjid Al-Jabar Polsek Tegalsari Sudah Bisa Digunakan Beribadah

Hal serupa juga dialami Duni Ariati, pengusaha sembako. Perempuan berusia 37 tahun asal Jalan Wiyung itu juga korban Titah. Awal perkenalannya itu karena anak mereka satu sekolah. Duni dan Titah sama-sama wali murid.

"Seiring berjalannya waktu, dia kemudian nawari ngajak bisnis, ceritanya aku ini jadi investor bisnis sembako. Misalnya dia ada pesanan banyak, dia menjanjikan ke aku keuntungan beberapa persen," ungkapnya.

Duni awalnya tidak tertarik. Namun Titah ini memposting sembako harga murah di status WhatsAppnya. Karena Duni pengusaha sembako, dia akhirnya tergiur.

"Saya coba tanya ke dia sistemnya bagaimana. Dia menjelaskan kalau sembako itu sistemnya PO (pre-order) makanya hargae murah. Tapi kalau PO itu harus bayar dulu. Yawes tak coba posting juga," paparnya.

BACA JUGA:Markas Dibakar Perusuh, Anggota Polsek Tegalsari Berkantor di Kecamatan

Tak disangka, satu agen langganan yang kerap pesan sembako ke Duni ada yang pesan. Duni kemudian memesan sembako yang dipesan pelanggannya kepada Titah. Waktu awal transaksi nilainya Rp12 juta.

"Barangnya itu ada, dan dikirim, cuma nyicil. Misalnya, saya pesan Indomie 30 kardus itu dikirimnya 15 kardus, sisanya itu besoknya," sebutnya.

Ketika ditanya alasan kenapa tidak dikirim semua, kata Duni, Titah beralasan bahwa barang PO. Pesanannya itu bareng banyak orang. "Karena dia menawarkan keuntungan, yasudah tak ambil. Lama-lama nawari banyak sembako terus," tururnya.

BACA JUGA:Polisi Tangkap 580 Dalang Kerusuhan Demo, Temasuk Pembakar Gedung Grahadi dan Mapolsek Tegalsari

Sumber:

Berita Terkait