iklan ucapan polri-2
pupuk
iklan ulta memorandum

Saya Tidak Lulus SMA (Seri 3)

Saya Tidak Lulus SMA (Seri 3)

Pada akhir 1994 dan beberapa bulan awal 1995, saya mengikuti anjuran. Saya mengambil sekolah bahasa Inggris dulu. Hitung-hitung sambil mematangkan lagi bahasa Inggris saya.

Kebanyakan "teman-teman" saya di sekolah bahasa itu adalah calon-calon mahasiswa S2. Datang dari berbagai negara di dunia. Asia, Afrika, dan Eropa. Kadang ada yang dari Indonesia, termasuk yang dikirim oleh instansi-instansi BUMN untuk sekolah S2 di Amerika.

Antara 1994-1995, total sekitar enam bulan saya sekolah bahasa di Sacramento. Di usia 17 tahun, dengan teman-teman sekelas yang kebanyakan usia di atas 25 tahun. Bahkan banyak sudah 30-an dan dari kalangan profesional. Dari berbagai negara di dunia.

Jadi, setelah SMA setahun di Ellinwood, praktis saya "tidak sekolah formal" antara 1994 dan 1995. Tapi dapat pengalaman "sekolah" yang unik. Dapat banyak teman dari berbagai negara, dan banyak belajar dari pengalaman-pengalaman mereka.

Plus, sekolah bahasa saya lokasinya di dalam universitas beneran. Di kampus California State University Sacramento. Jadi, sehari-hari saya sudah melebur dengan mahasiswa-mahasiswa di sana. Sudah seperti mahasiswa.

Saya pikir, lucu juga pengalaman saya waktu itu. Usia masih 17 tahun. Status sekolah tidak formal. Kumpul dengan mahasiswa-mahasiswa dan orang-orang yang lebih senior semua. Menoleh ke belakang, saya menganggap itu sebagai "sekolah hidup" yang mungkin tidak ada duanya.

BACA JUGA:Edisi Kelima Talk Show Dahlan Iskan: Pengusaha Terbebas Utang, Bisnis Justru Makin Berkembang

Akhirnya, pertengahan tahun tiba. Semester baru segera dimulai. Pada musim gugur 1995, saya resmi masuk Sacramento City College. Jurusan yang saya pilih adalah Bisnis. Di level junior college, jurusannya masih umum tanpa konsentrasi khusus. Karena selama dua tahun, saya juga harus menjalani syarat-syarat pelajaran umum yang belum pernah saya dapatkan waktu SMA. Saya harus ambil lagi kelas-kelas sains, beberapa tingkatan Matematika, dan pelajaran-pelajaran umum lain.

Kompleks Sacramento City College dan fasilitas olahraganya.

Usia saya juga sudah 18 tahun.

Secara legal sudah dianggap orang dewasa.

Bisa mengurus SIM dan beli mobil sendiri tanpa orang tua atau wali. Waktu itu mampunya beli Honda Civic Hatchback keluaran 1991, dengan transmisi manual dan tanpa power steering. Harga USD 5.000. Kurs tahun 1995 itu, kalau dirupiahkan, hanya Rp 12 jutaan.

Mobil itulah yang sehari-hari mengantarkan saya menjalani pendidikan di jalur yang "normal", di jalur yang kembali jelas arahnya.

Tidak punya ijazah SMA sudah bukan lagi masalah. Tidak punya ijazah SMA sudah tidak lagi relevan untuk masa depan saya. Karena saya sudah di jalur resmi untuk mengejar ijazah perguruan tinggi.

BACA JUGA:Hadirkan Ratusan Pebisnis, Talkshow with Dahlan Iskan Kupas Tuntas Solusi Lepas dari Jeratan Utang

Sumber: